KOREA semakin mantap mengembangkan industri mode. Terlihat dari keseriusan pelaku mode dan pemerintah dalam menggalang kerja sama perdagangan tekstil serta ritel dengan buyer asing.

Salah satu pembeli yang dibidik Korea adalah Amerika Serikat. Karena itu, para desainer yang tergabung dalam Korean Federation of Design Association (KFDA) mengirimkan sembilan delegasinya untuk mempertunjukkan koleksi terbaru di hadapan pembeli di New York.
Ajang tersebut merupakan debut fashion Korea di pasar ritel Amerika. Para desainer yang tergabung dalam KFDA tersebut bekerja sama dengan Korea International Trade Association dan Korea Women Entrepreneurs Associations.

“Lewat acara ini, kami berusaha menunjukkan pada pembeli Amerika bahwa Korea memiliki produk fashion berkualitas yang bisa disejajarkan dengan desainer internasional dan tentunya sesuai dengan pasar Amerika,” ujar Soo Hyun-choi, desainer label Cubellia yang mempresentasikan koleksi mantel kashmir serta kemeja feminin berdetail ruffles.

“Rancangan saya bergaya feminin, elegan, praktis, dan sangat wearable. Gaya yang saya perhatikan digemari wanita Amerika,” sambung Soo.

Sementara untuk lini yang lebih couture, Korea mempersembahkan koleksi Jeone Mi-young yang membawa label Lilycomes Paris, atau Lee Young-hee serta An Yoon-jung yang menghadirkan rangkaian cocktail dress dengan hiasan sequin, bulu-bulu eksotis, serta kristal.


 

ANTING-ANTING selalu menjadi aksesori pendukung yang mempermanis penampilan. Anting-anting menjadi salah satu bentuk aksesori tertua yang dikenakan manusia setelah kalung.

Terbukti, dengan temuan sejarah berupa anting yang berasal dari Persia yang diperkirakan sudah berusia sejak tahun 2.500 SM. Dari temuan tersebut diketahui bahwa para bangsawan Mesir Kuno sudah menggunakan anting-anting, baik yang berbentuk lingkaran (hoop earings) maupun anting-anting menjuntai (dangling/ chandelier earings).

Di masa lampau, hanya para bangsawan saja yang menggunakan anting untuk menunjukkan satus sosial mereka. Ini terus berlanjut sampai pada abad pertengahan di Eropa. Pada masa tersebut, kaum hawa menggunakan perhiasan kepala yang besar dan berat dengan rambut yang ditata menutupi telinga sehingga seluruh bagian telinga tertutup rapat dengan aksesori kepala. Sedangkan di abad 17, anting-anting menjuntai menjadi populer dan lebih digemari dibandingkan dengan jenis anting lain seperti giwang. Pasalnya, anting jenis ini terbukti mampu membuat penampilan terlihat lebih mewah.

Terkenal dengan sebutan girandolle, anting-anting menjuntai yang panjang dan sangat berat karena bahan dasarnya terbuat dari emas dan perak dengan tiga susun batu-batuan berharga. Saking beratnya, membuat telinga para wanita pada saat itu tertarik memanjang karena beban perhiasan telinga jenis ini.

Di dekade 1920-an, saat model rambut bob pendek digemari, anting-anting menjuntai ini pun melejit popularitasnya. Karena dinilai sangat sesuai dengan gaya rambut berpotongan simpel seperti yang satu ini.

Label ternama Chanel tak mau ketinggalan dengan perkembangan perhiasan telinga. Merek papan atas ini pun mengeluarkan koleksi anting-anting menjuntai panjang serta kalung-kalung panjang yang cantik.

Di masa Perang Dunia II, anting-anting menjuntai surut popularitasnya. Diganti dengan giwang mungil dengan desain yang sederhana. Usai Perang Dunia II anting-anting menjuntai panjang kembali menjadi tren.

Saat ini anting menjuntai memang tidak lagi menjadi primadona dalam pelengkap penampilan, tetapi anting jenis ini tetap dipilih untuk memberi tampilan yang mewah dan istimewa karena banyak bintang Hollywood yang memilih jenis anting tersebut. Semisal saat menghadiri acara Grammy Awards 2010 yang berlangsung 31 Januari lalu. Beberapa aktris seperti Taylor Swift, Beyonce, Carrie Underwood tampil pede dengan anting-anting menjuntai yang dipermanis aksen batu.


 

GOTHIC menjadi tema utama koleksi Sofie untuk tren 2010. Rancangannya hadir gelap, mistis, dingin, namun di sisi lain juga penuh warna, embellishment, juga craftmanship yang menjadi signature-nya.

Seusai pertunjukan Malik Moestaram yang penuh warna serta energi di Jakarta Fashion Week (JFW) beberapa waktu lalu, panggung mode mendadak dingin. Musik latar berganti dengan nada yang lebih muram, menekan. Panggung gelap dan layar besar di mulut catwalk menyajikan gambar bulan purnama pucat yang menerangi malam. Ada dua kata terpampang dalam warna merah menyala, Sofie, Gothchic.

Sesuai dengan judul koleksi yang disajikannya, Sofie memang menghadirkan koleksi bergaya gothic. Gelap, muram, dingin. Warna-warna solid yang menjadi ciri khas busana gothic pun terlihat mendominasi koleksinya. Namun tidak hanya hitam, Sofie dengan lihai menambahkan kombinasi warna dalam nuansa gelap yang disajikannya.

Ya, gothic tidak harus selalu hitam dan hitam tidak berarti gothic. Di tangan Sofie, gothic tampil sedikit lembut. Gaya busana yang diadaptasi dari busana berkabung wanita di era Victorian itu memang kerap didominasi warna hitam, yang tidak hanya melekat pada busana, tapi juga tata rias. Di catwalk Sofie, dark mood terlihat kental dari tata rias, sementara busananya merupakan campuran citra muram ala gothic dengan sentuhan rebel ala punk rock. Menciptakan tampilan baru, yang disebut Sofie sebagai Gothchic.

“Inspirasinya datang dari bangunan-bangunan tua yang bernuansa gothic. Mistis, dingin, kukuh, dan tak lekang oleh masa,” tutur desainer bernama lengkap Ahmad Sofiyulloh ini.

Menurut Sofie, gedung-gedung tua tersebut menyimpan banyak cerita dan menjadi saksi bisu sejarah, saksi perubahan zaman. Itulah yang ingin disampaikan Sofie melalui koleksinya, bahwa gothic bisa mewakili masa lalu, masa kini, dan masa depan. Refleksi ide Sofie pun terlihat dari permainan warna-warna gelap yang dikombinasikan bersama napas etnik dari motif batik serta aplikasi manik juga metal.

Sofie pun tidak menampilkan koleksi bergaya feminin, melainkan bergaris androgyny. Hasilnya, rangkaian koleksi chic dengan added value dari batik, tie dye, juga lurik yang dikombinasikan dalam gaya neo punk.

Sisi kontemporer koleksi Sofie terlihat dari cutting yang dinamis. Potongan pendek menegaskan gaya praktis kaum urban, sementara kehadiran draperi menunjukkan kelembutan rancangan Sofie.

Highlight lainnya adalah ragam jaket pendek yang menjadi pelengkap busana. Bolero dan blazer pendek yang menyertai terusan ataupun padu padan celana dan blus justru menjadi “senjata” penarik perhatian, selain kombinasi acak dari batik dan lurik.

Sofie juga menunjukkan agresivitasnya dalam hal mix & match. Jodhpur bermotif bunga tampak menarik saat dipadu dengan cropped blazer, blus transparan, serta syal berornamen. Warna merah menjadi center of attention di antara palet-palet gelap dan secara keseluruhan mempertegas campuran gaya gothic dan neo punk yang hendak disampaikan Sofie.

Di kesempatan lain, Sofie mengombinasikan terusan berwarna pucat dengan cutting asimetris bermotif lurik dan batik bersama stoking hitam, fedora studs, heavy choker, serta ankle boots beraksen logam, menciptakan tampilan gothic nan lembut.

Ahli sejarah fashion Valerie Steele yang pernah menerbitkan buku berjudul “Gothic: Dark Glamor”, mengatakan bahwa gothic adalah gaya busana yang tidak lekang dimakan waktu.

“Gothic lebih dari sekadar hitam. Gothic adalah mood yang menunjukkan sisi gelap manusia dan gothic akan selalu hadir di setiap musim,” ujar Steele.

Kenapa? Alasannya, menurut Steele sangat sederhana, karena gothic didominasi hitam, warna yang diagungkan dalam mode.

“Hitam adalah warna yang harus selalu ada, dan karena itu gothic pun akan selalu ada,” terang Steele. “Kendati pun gothic terlihat sebagai anti-fashion, sebenarnya gothic adalah bagian dari fashion itu sendiri,” sambungnya.

Dan karena itulah, gothic terus berkembang dalam fashion dan menjelma menjadi berbagai gaya turunan. Pada ’70-an, gothic bersatu dengan punk dan melahirkan Sex Pistols beserta Siouxsie Sioux sebagai ikon kaum muda, sekaligus mengantar Vivienne Westwood membawa punk ke dalam lingkaran high fashion, saat sekali lagi gothic bertemu gaya Victorian klasik, lalu menjelma kembali sebagai gaya rebel kaum muda di seluruh dunia.


 

SEBANYAK 50 pakaian ready-to-wear dan gaun haute couture dari 40 desainer mancanegara dipamerkan dalam perayaan Tahun Biodiversity di Palais des Nation Geneva Switzerland. Selphie Bong, seorang desainer muda Indonesia turut dalam acara yang dihelat Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB/United Nations) ini.

Indonesia patut berbangga karena salah seorang anak bangsa, yakni Selphie Bong turut menyemarakkan perhelatan amal tersebut. Selphie bahkan merupakan desainer termuda di antara sederet desainer internasional lainnya. Didaulat menjadi bagian dari acara, Selphie membuat gaun linen hitam panjang yang beratnya hampir 8 kilogram.

Nama Selphi di kancah fesyen internasional mulai diperhitungkan. Memulai kiprahnya sejak dua tahun lalu, perancang berusia 22 tahun ini mengibarkan nama Indonesia lewat label BONG’S.

Selphie sudah sangat mengerti, bahkan telah mempraktikkan eco sustainable pada semua label pakaiannya. “Saya sangat tergila-gila dengan eco fashion, natural fiber, seperti linen, sutra, katun, dan banyak lagi. Saya sangat senang ketika klien saya memegang gaun saya dan mengatakan “Ini sutra”,” tuturnya.

Selphie menuturkan, publik sekarang semakin peduli dengan kelestarian alam sehingga memahami keberadaan eco fashion. “Kita seharusnya bersyukur, sutra dan linen sudah bisa dijangkau market manapun, dan semua orang sudah mampu menggunakan sutra,” katanya.

Dalam perhetalan tersebut, Selphie disejajarkan dengan desainer terkenal lainnya, seperti Thakoon Panichgul asal Thailand, Peter Ingwesen asal Belanda, Sarah Ratty asal London, dan Diane Von Furstenberg asal New York yang memiliki beberapa butik di mal Indonesia.

“Kami memilih desainer terbaik dunia, terbaik dalam desain dan terbaik dalam melestarikan budaya dan alam,” ucap Christina Dean, penyelenggara acara.

Peter Ingwesen, misalnya, menggunakan bahan katun yang berasal dari Uganda. Ingwersen’s menggunakan 100 persen katun organik untuk rancangan gaun malam warna hitam.

Pemilik label “Noir” ini menyatakan alasannya menggunakan bahan tersebut karena konsumen kini semakin perduli dengan pelestarian alam sehingga perdagangan bahan-bahan natural akan semakin pesat.

Sementara desainer Sarah Ratty, pemilik label “Ciel” ini menggunakan kain rami yang terbuat dari bahan natural. Kain ini sendiri masih awam digunakan, dan masih belum dipasarkan secara luas.

Beberapa isu lingkungan yang menjadi fokus kepedulian, adalah pemanasan global, hilangnya keanekaragaman hayati, buruh di bawah umur dalam industri tekstil terutama Asia, beberapa proses konvensional seperti wol kasar, penyamakan dan pemutihan kulit, pencelupan dan pencetakan tekstil menggunakan air dalam jumlah besar, penggunaan energi atau bahan kimia beracun, dan limbah.

“Industri mode telah menanggapi permintaan gaya berkelanjutan dan serat alami nampak bagus,” ujar Lucas Assuncao dari United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD)


 

Tak ada manusia yang sempurna. Itu sudah pasti. Namun, pasti ada cara untuk membantu mengatasinya, termasuk dalam hal fisik. Sebagian besar wanita memiliki keluhan pada bagian bawah tubuhnya. Ada yang mengeluhkan terlalu lebar, terlalu tebal, juga terlalu tipis. Tak perlu minder. Cukup siasati itu dengan trik-trik berikut.

Tungkai besar
Untuk menyiasatinya, pilih celana model bootcut atau rok yang belahannya di bagian sisi. Upayakan untuk memilih rok yang berukuran cukup nyaman untuk bergerak, asalkan jangan yang pas badan. Rok atau celana yang ketat di bagian sisi kaki akan membuat kaki terlihat lebih besar. Jangan pula memilih celana atau rok yang terlalu panjang karena membuat Anda akan terlihat “tenggelam”. Rok yang pendek, tak perlu mini, cukup selutut akan membuat seseorang terlihat lebih tinggi dan ramping.

Pinggul tebal
Kemeja ala pria dimasukkan ke dalam celana bahan atau rok, ditambah sepatu hak tinggi seksi akan memberikan kamuflase di bagian tengah tubuh dan memberi kesan chic.

“Cankles”
Ini sebuah sebutan untuk mereka yang memiliki masalah pada bagian pergelangan kaki yang terlalu tebal sehingga terkesan betis lurus hingga ke tumit. Jangan selalu menyembunyikannya di balik celana panjang. Anda masih bisa mengenakan dress dan rok. Ciptakan kesan cankles yang lebih ramping dengan mengenakan rok selutut dan sepatu dengan tinggi sedang, dengan hak medium. Hindari sepatu hak tinggi yang bertali karena akan menarik perhatian ke arah tersebut. Hindari pula sepatu hak datar, atau lebih dikenal dengan sepatu balet, apalagi yang yang memiliki tali di bagian pergelangan kaki.

Bokong besar
Blazer panjang akan menyiasati bagian belakang Anda yang ukurannya lebih besar dari ukuran biasa. Untuk dalamannya, kenakan dress yang pas dengan tubuh atau jins straight leg (pipa). Hindari celana dalam g-string, kenakan celana dalam hipster dengan bahan lycra untuk memberi sokongan pada bagian bawah bokong dan mencegahnya terlihat tidak kencang.

Panggul lebar
Pilih rok berpotongan A dengan satu warna untuk membuat panggul terlihat lebih ramping. Sebaiknya hindari bahan yang mengilap, bahan satin, atau celana maupun rok berwarna cerah karena bisa menarik perhatian ke arah lipatan dan menciptakan siluet yang lebih lebar.

Bagian bawah yang pendek
Untuk menyiasati kondisi ini, dress dengan empire-waist akan membantu Anda terlihat lebih tinggi. Untuk terlihat lebih modern, pilih dress yang panjangnya selutut.

Bokong rata
Berinvestasilah pada celana dalam yang membantu menyokong bokong dan memberi bentuk pada bagian belakang. Celana hipster juga bisa membantu membuat bagian belakang Anda terlihat lebih bundar dan memberi bentuk.

Bokong lebar
Pilih celana model pipa untuk menyiasati kondisi ini, lebih cocok lagi jika dipasangkan dengan atasan yang pas dengan tubuh dan jaket.


 

Hanya karena Anda memakai jilbab, tidak berarti Anda tidak bisa mengikuti tren. Meskipun begitu, Anda tetap harus memilih-milih item yang ingin Anda kenakan. Monika Jufry, pemilik rumah mode dan butik muslim Sessa, memberikan masukan bagi Anda yang ingin tetap cantik berjilbab namun tidak menyalahi kaidah.

* Gunakan dress atau atasan dengan model kelelawar dengan corak yang abstrak atau animal print (hanya coraknya, RED).

* Padukan dengan legging katun polos yang tidak menampilkan lekukan tubuh, dan warna kulit.

* Gaun-gaun draperi dengan cutting yang tidak beraturan atau menampilkan sedikit kerut masih menjadi tren tahun ini. * Gunakan bahan-bahan chiffon silk atau gaun yang melambai dengan warna polos. Padukan dengan manset bercorak.

* Tunik abaya atau long dress dengan corak abstrak, hindari terlalu banyak ruffle.

* Hindari terlalu banyak ornamen atau detail pada pakaian jika menggunakan terusan bercorak ramai.

* Warna terang dan warna-warna tertier (campuran beberapa warna) menjadi tren tahun ini.

* Gunakan penutup kepala yang simpel dengan korsase (tidak harus berbentuk bunga, tapi lebih bergaya abstrak). Padukan juga dengan sedikit tumpukan kancing atau origami pada penutup kepala polos. Hindari full payet. Yang harus dihindari oleh perempuan berjilbab:

* Jangan menggunakan legging yang transparan atau memperlihatkan warna kulit. Legging bukanlah celana panjang, sehingga hanya boleh digunakan ketika memakai abaya atau terusan panjang. Jika Anda menggunakan terusan yang terlihat agak transparan, maka legging akan digunakan sebagai dalaman.

* Memvariasikan bentuk-bentuk kerudung memang sedang tren. Tetapi jangan sampai kerudung yang Anda modifikasi memperlihatkan salah satu aurat. Misalnya, telinga ataupun leher Anda.

* Pakaian yang cenderung tipis, harus dilapisi. Batas penggunaan pakaian atasan adalah hingga ke pergelangan tangan. Sedangkan panjang bawahan hingga ke mata kaki.

* Hindari penggunaan pelapis tangan yang saat ini sedang tren. Karena umumnya pelapis tangan membentuk lekuk tubuh dan transparan.


 

TREN warna busana 2010 memang mengusung palet cerah sepanjang tahun. Namun yang menjadi garis tren utama adalah barisan warna agresif nan unik, salah satunya nuansa pink hingga fuschia.

Para pakar mode dunia setuju, di tahun 2010, warna cerah tidak lagi hanya digunakan saat musim semi. Melainkan menjadi palet yang wajib ada hingga tahun berakhir. Lihat saja panggung-panggung desainer terkemuka di pekan mode internasional. Hampir seluruhnya tampil atraktif dengan menyuguhkan palet ceria dalam berbagai nuansa, mulai dari citra feminin dengan motif floral hingga yang bergaya retro dalam balutan warna elektrik khas tahun 80-an.

Namun, bila ditarik satu garis lurus dari satu pergelaran ke pergelaran lainnya, terdapat beberapa warna yang menjadi garis tren utama. Bila kuning mencuat tahun lalu, maka di awal tahun ini, warna yang memegang peranan penting adalah tone pink hingga fuschia. Seperti halnya warna lainnya, koleksi pink ini pun tampil dalam beragam rasa. Baik hadir solo dalam kemasan single tone ataupun terlihat semarak dengan teknik polikromatik. Panggung mode dari Eropa hingga Asia pun terkena demam pink spring, terbukti dengan hadirnya palet feminin ini di banyak koleksi desainer.

Eropa diwakili label kawakan Burberry Prorsum. Di tangan Christopher Bailey, sang direktur kreatif, pink tidak lagi tampil konservatif, melainkan hadir kontemporer dalam kemasan gaun lengkap dengan mantel panjang. Sebagai aksen, Bailey menghadirkan ikat pinggang logam yang melilit manis, senada dengan aksesori gelang bertumpuk serta clutch. Read the rest of this entry »


 

TAHUN 2009 akan segera usai. Untuk menutup tahun Kerbau ini, Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) menghelat pergelaran busana sebagai acuan tren mode 2010. “Signs of Times” atau tanda-tanda waktu yang hadir dalam perkembangan budaya manusia dan “dibaca” oleh para desainer.Dalam Fashion Tendance Jawa Barat 2010 yang diikuti 15 desainer APPMI Jawa Barat, terangkumlah rumusan tren mode 2010. Adapun deretan desainer tersebut terdiri dari Rebecca Ing, Iva Latifah, Eddie P Chandra, Susan Zhuang, Herman Nuary, Jennij Tedjasukmana, Malik Moestaram, Irna Mutiara, Harry Lam, Deden Siswanto, Henny Noer, Rudi Liem, Harry Ibrahim, Nuniek Mawardi, dan Misan.

Para desainer menyandingkan fesyen dan arsitektur dalam proses kreatifnya. Elemen arsitektur, seperti geometris, bentuk, volume, dan curving-elemen yang sama dalam busana-dihadirkan dalam cutting, warna, detail, dan material. Arahan tren mode 2010 tersebut tak lepas dari hasil “membaca” para desainer terhadap kecenderungan tren yang akan booming di tahun mendatang. Tapi, dengan tetap mengusung ciri khas rancangan masing-masing.

Deden Siswanto dalam tema “Ferocious Beauty” mengambil inspirasi wanita awal abad ke-20, Mata Hari, yang menggabungkan kecantikan dan keseksian dengan kekuatan dan ketegasan. Karya diwujudkan dalam busana percampuran beragam material dan teknik pengerjaan, salah satunya foiling.

Warna hitam, burnish gold, dan cooper tampil dengan sentuhan ragam warna alam pada motif dan bahan lainnya. Detail dan ornament yang dipakai merupakan kombinasi dari eyelets, embroidery, vintage beads&studs, dan prints.

Eddy P Chandra mendefinisikan tema “Day & Night” sebagai suatu senyawa siang dan malam. Dua hal bertolak belakang yang dapat menghasilkan keindahan. Tema diaplikasikan dalam warna, teknik pengerjaan, konstruksi yang baik, dan detil yang tidak berlebihan namun memberi sentuhan yang menawan. Desainer berusia 62 tahun ini banyak bermain dengan warna merah, hitam, gold, dan silver. Read the rest of this entry »


 

PERGANTIAN tahun 2010, tinggal hitungan hari. Sebelum menyambut tahun bershio Macan Logam ini, banyak pertanyaan bergelayut di benak, mengenai percintaan, karier, kesehatan, hingga peruntungan bisnis. Akankah lebih baik dari tahun 2009, atau justru kebalikannya? Banyak faktor yang membuat sebuah negara menjadi maju. Salah satunya, perekonomian yang baik dengan berbagai usaha yang tumbuh subur di dalamnya. Menurut penerawangan Beby Djenar lewat kartu tarotnya, peluang usaha di tahun berkarakter keras dan agresif mendatang, masih belum bersinar cerah.

Pemulihan ekonomi berjalan lambat Peluang bisnis nampaknya belum berpihak pada para pengusaha. Tahun 2010, pemulihan ekonomi berjalan lambat. Dengan kondisi yang naik turun di setiap kwartal tahun, menunjukkan bangsa kita belum mampu bangkit dari keterpurukan ekonomi. Banyaknya polemik yang terjadi saat ini menyebabkan investor asing masih belum berani berinvestasi. Pasalnya, mereka tidak berani mengambil risiko dan berpikir ulang untuk menanam modalnya di Indonesia. Read the rest of this entry »


 

Koleksi Alma Riva/APPMI Yogyakarta

HITAM identik dengan warna berkabung. Tapi di tangan desainer muda Alma Riva, hitam tampil lebih elegan dan cantik.

Begitulah kesan pertama melihat koleksi Alma Ridwan di ajang Jogja Fashion Tendance 2010. Perancang berusia 34 tahun ini terlihat all out mengolah material bahan yang dominan hitam.

“Warna hitam lebih terlihat elegan dan memiliki kelas,” kata Alma kepada okezone di acara gathering di Omahku Yogyakarta, Sabtu (7/11) lalu.

Di ajang tahunan ini, Alma yang banyak memanfaatkan material bahan satin, tule, sifon, dan rajut, itu lebih fokus menggarap wanita usia muda sebagai market potensial. Untuk itulah, desain busana yang ditampilkan tidak lepas dari semangat anak muda. Ciri rancangannya funky.

Untuk mengakomodasi keinginan anak muda yang beragam, Alma pun memberikan opsi busana yang beragam. Koleksinya seperti tube dress, short dress, blus, rok rampel, backless, halter neck, dan bolero.

“Tidak perlu memakai aksesori yang berlebihan, karena busana hitam bisa membuat wanita tampil menawan,” tukas Alma yang mengusung tema koleksi “Chic to Chic”.


 
« Older Entries