CANTIK dan trendi terkesan dengan mengenakan jilbab kombinasi topi. Dengan tambahan renda jilbab yang dikenakan terlihat lebih oke. Dan, sangat tepat dikenakan saat liburan.

1.Kenakan jilbab bergo.

2.Lalu tarik kedua sisinya ke tengkuk, semat dengan peniti.

3.Selanjutnya kenakan topi di atasnya.

4.Setelah itu, ambil renda tali, kenakan dari belakang,dan temukan kedua sisinya di samping kanan. 5.Kemudian gulung masing-masing sisi, semat dan tempelkan, gunakan bantuan jarum.


 

Warna yang akan trend pada beberapa hari ini… maklum hari kemerdekaan RI yaitu 17 Agustus. Warna Merah putih merupakan warna bendera negara ini, so ketika merayakan kemerdekaan RI pantaslah warna dari pakaian yang kita pakai bernuansa bendera Merah Putih.

Lihat saja ketika pawai, Gerak jalan maka nuansa warna merah putih sangatlah kental. Bambu Runcing pun  diwarnai merah putih.  MERDEKA. Mari kita rayakan hari kemerdekaan dengan suka. M E R D E K A


 

MERAYAKAN hari jadinya yang ke-13, Ikatan Perancang Busana Muslim (IPBM) Jawa Barat menggelar milad yang mempersembahkan koleksi 13 desainer yang tergabung di dalamnya.

Menjadikan Jawa Barat sebagai trendsetter busana muslim Indonesia merupakan tujuan IPBM. Karena itu, setiap tahunnya, setiap desainer yang terlibat selalu berusaha memberikan sesuatu yang inspiratif, baik bagi desainer lainnya maupun tamu undangan.

Seperti juga kali ini, tema “?Aesthetic in Fashion” ?yang diusung IPBM menggambarkan betapa busana muslim pun bisa tampil apik dan variatif layaknya busana kontemporer. Iva Lativah, Ketua IPBM Jawa Barat mengatakan, sudah menjadi kewajiban para desainer untuk berdakwah melalui busana.

“Bagi kami, para desainer,busana adalah syiar Islam, karenanya kami berusaha memberikan yang terbaik setiap tahunnya untuk para konsumen, sehingga mereka pun terpanggil keimanannya untuk berbusana sesuai kaidah Islam,” ujarnya.

Selain itu, Iva juga mengungkapkan bahwa meskipun sudah menginjak usia yang ke-13, IPBM masih harus terus belajar dan berinovasi sehingga dapat terus berkembang dan maju dalam merancang busana muslim. “Sehingga nantinya, busana muslim dapat menjadi pakaian yang populer dan menjadi ciri khas bagi setiap muslim di tanah air,” tuturnya.

Melihat koleksi yang ditampilkan para desainer di atas panggung, tampak jelas bahwa tahun 2009 ini sisi kontemporer berbusana muslim menjadi konsentrasi utama.Ketua Penyelenggara Milad IPBM XIII Herman Nuary menyebutkan bahwa hal tersebut dilakukan guna menyiasati persaingan yang semakin kompetitif di dunia fashion.

“Dengan begitu, kita bisa mengangkat kaum muslimah agar dapat selalu tampil rapi dan serasi, menjadi muslimah yang seutuhnya,” katanya.

Keistimewaan lain yang dibawa IPBM pada pertunjukkan yang dihelat di Ballroom Hotel Hilton, Bandung, itu adalah kerja sama dengan Dekranasda Jawa Barat yang baru pertama kali dilakukan. Ketua Dekranasda Jawa Barat sekaligus Penasihat IPBM Netty Heryawan mengatakan, kerja sama antara Dekranasda dan industri busana muslim diharapkan dapat lebih memperkaya khasanah fashion di Jawa Barat.

“Dengan jumlah penduduk mencapai 42,1 juta jiwa dan pasar busana muslim yang mencapai 80 persen-nya, maka hal itu merupakan potensi yang tidak bisa dikesampingkan. Apalagi saat ini busana muslim ada di setiap level usia, aspek gaya hidup, juga di pertemuan bisnis. Karenanya, Dekranasda memiliki kepentingan dalam industri ini untuk mempertemukan potensi Jawa Barat, sehingga bisa terjadi sinergi antara seni dan budaya Jawa Barat dengan industri fashion muslim yang menjanjikan ini,” terang istri Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan tersebut.

Sinergi tersebut pun direspons para desainer dengan menghadirkan rangkaian koleksi busana muslim kontemporer, yang selaras dengan tren terkini,namun tanpa melupakan sisi tradisional budaya.

Nuniek Mawardi, salah satu desainer yang berpartisipasi, mengungkapkan bahwa koleksinya yang bertema ?”Ambiguous Earthy”? merupakan kombinasi antara inspirasi global dengan citra lokal.

“Sesuai dengan tren musim semi dan musim panas 2010 yang mengusung tema ‘Ambivalen’,saya berusaha mengombinasikan sisi internasional dalam napas lokal melalui gaya busana Mesopotamia, namun dengan material tradisional, yakni tenun Gedog Tuban dan Lurik Yogyakarta,” paparnya.

Berbeda dengan Nuniek yang memberikan aksi twist pada bentukan tunik dan gaun ala jubah Assyria, Iva Lativah justru bermain garis dengan mengedepankan tema ?”Art Deco Batik?”. Yang menarik, Iva menempatkan huruf-huruf berhias metalik membentuk labelnya, Iva Lativah, di bagian depan busana, baik itu berupa tunik, gamis, maupun kemeja untuk pria.

Koleksi lain yang juga terlihat menonjol dalam pergelaran tersebut adalah milik Ernie Kosasih yang mengetengahkan gaya koboi melalui tema ?”In The Mood of Western”?. Bagaimana tidak, rompi, kemeja kotak-kotak, rok berumbai, sepatu bot, dan topi koboi mendominasi koleksinya, menjadikan pertunjukkan semakin meriah dengan alunan musik country, sekaligus memancing tepuk tangan para tamu undangan.

Kontras dengan koleksi besutan Yana Diah Kusumawati yang menonjolkan kesederhanaan rancangan, namun dengan twist apik berupa permainan aksesori berukuran jumbo serta teknik jumputan sebagai motif. Adapun Ning Zulkarnain serta Nina Azura menyuntikkan keceriaan lewat permainan warna pelangi.

Bila Nina bermain dengan gradasi dan sentuhan metalik, Ning justru menyajikan semua warna menjadi satu melalui motif abstrak dan gaya multi-layer. Desainer lain yang juga berpartisipasi dalam milad IPBM XIII adalah Fenny Sofia, Betty Ahyar, Hennie Noer, Meeta Fauzan, Joko Aditya Subekti, serta Herman Nuary.


 

Foto: Eko Purwanto/Koran SI

DALAM industri mode, warna memegang peranan yang sangat penting. Warna merupakan unsur yang pertama terlihat, juga yang paling lama dan mudah diingat.

Color & Image Consultant Irma Hadisurya mengatakan, dalam bisnis dan industri, warna sering disebut sebagai the silent saleperson atau pihak yang menjual tanpa perlu payah berusaha. Lebih lanjut, Irma juga menjelaskan bahwa warna adalah unsur utama dalam dunia desain, termasuk mode, interior dan dekorasi, juga industri lainnya. Karenanya, dibutuhkan sebuah pakem yang menentukan warna mana yang cocok untuk suatu waktu tertentu, atau mampu menggugah emosi dan suasana hati. Selain itu, hasil riset menunjukkan bahwa sekitar 65 persen keputusan belanja konsumen dipengaruhi warna dan kemasan.

“Warna mampu menciptakan kesan, menyampaikan pesan, bahkan menggugah ingatan. Karenanya, dalam dunia desain warna tidak statis, melainkan dinamis, cenderung bergonta-ganti,” ujarnya. “Terkadang, warna-warna tertentu secara serempak membanjiri pasar, dicari, dan dikenakan banyak orang, lalu selang beberapa waktu kemudian digantikan warna lain.Itulah yang kita sebut tren warna,” papar Irma.

Menurut Irma, prediksi tren warna atau color forecesting sebenarnya sudah ada sejak akhir abad ke-19. “Pertama dikeluarkan oleh sebuah pabrik tekstil di Prancis yang ditujukan bagi industri tekstil secara keseluruhan, isinya mengenai warna-warna yang sedang populer di kalangan penjahit baju dan pembuat topi,” tutur Irma.

Sejak saat itu, bisnis color forescasting berkembang, menjadi bagian tersendiri dari industri mode sehingga lahirlah color designers dan color forecasters yang bertugas mengembangkan dan memutuskan arahan warna. “Tren warna sebenarnya lahir dari hasil kesepakatan. Mereka (forecasters dan pelaku mode) menghadiri pertemuan dua kali setahun untuk menentukan tren warna. Mereka mengevaluasi warna-warna best seller di pasar dan merencanakan warna-warna yang akan tampil dalam siklus berikutnya,” celoteh Irma. “Kemudian, hasil kesepakatan tersebut dikemas dalam bentuk color forecast yang akan berlaku 18-24 bulan berikutnya,” imbuhnya.

Adapun untuk tren warna 2009, Irma menyebutkan hingga akhir tahun warna kuning masih akan menjadi primadona karena dianggap cocok mengatasi situasi global yang tidak menentu. “Kuning menggambarkan kemantapan, kehangatan, dan keriangan yang juga menjadi simbolik masa depan,” ujarnya.

Dominasi kuning di atas catwalk dapat dilihat pada koleksi beberapa desainer Indonesia yang dipamerkan dalam berbagai pertunjukan beberapa bulan terakhir. Sebut saja Handy Hartono yang mempersembahkan kuning dalam kemasan tribal ala Afrika. Di ajang “Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF) 2009 lalu, Handy menghadirkan ragam desain yang terinspirasi dari keindahan alam, rumah-rumah, dan kerajinan tangan suku Nubian yang tinggal di Pulau Elephantine, Sungai Nil, Mesir.

“Mereka memiliki kerajinan yang begitu indah dan eksotis dengan motif-motif geometris dan warna-warna cerah,” ujar Handy.

Warna kuning memang tidak serta-merta dihadirkan Handy secara mentah, Handy memainkan warna hangat tersebut, terkadang menyajikannya dalam nuansa yang lebih gelap atau cenderung mengarah ke warna oranye atau lemon. Menurut Handy, hal tersebut disesuaikannya dengan warna kulit wanita Asia yang lebih cocok menggunakan paduan palet warna hangat layaknya earth color, seperti ketika tembaga berpadu perak, hijau bertemu kuning, dan cokelat menyapa kelabu yang tampil dalam garis rancangan minimalis khas Handy.

Kuning bukan hanya milik Handy, juga Defrico Audy yang menyajikan koleksi bernapas etnik dari tenun Sulawesi. Bila Handy menyajikan ragam nuansa kuning, Audy justru lebih menonjolkan keceriaan kuning dengan menambahkan payet, kristal dan manik-manik. Selain Audy dan Handy, desainer lain yang juga menggunakan kuning dalam rancangan mereka adalah Pinky Hendarto, Uke Toegimin dan Malik Moestaram.

Meskipun kuning memang menjadi acuan warna tren 2009, tidak semua desainer mengaplikasikan tren tersebut dalam rancangan mereka. David Landart, color forecaster & consultant dari Carlin International mengatakan, tren warna merupakan garis besar yang kerap dijadikan panduan dalam menyesuaikan dengan selera pasar, namun tidak mengikat ataupun mutlak harus diikuti.

“Desainer terkadang memiliki garis dan konsep rancangannya masing-masing. Tren warna hanyalah acuan saja, sementara pemilihan warna pada koleksi masing-masing desainer merunut pada busana seperti apa yang akan ditampilkannya,” ujarnya. Hal ini diamini desainer asal Bandung, Harry Ibrahim. Dia juga menjelaskan, untuk gaya busana tertentu, mungkin warna kuning akan cocok diterapkan, tanpa menutup kemungkinan kombinasi dengan warna lainnya.

“Warna sangat universal, dan setiap desainer pasti menyesuaikan warna dengan garis rancangannya. Misalnya desainer yang bermain di garis kasual, warna kuning bisa masuk, tapi untuk garis tertentu seperti evening atau kebaya, harus disesuaikan,” ucap desainer yang akrab disapa Ibra ini.

Kendati demikian, Ibra tak menampik bahwa tahun ini, nuansa warna yang lebih colorful memang menjadi tren. “Saya rasa memang tahun ini, warna cenderung lebih colorful dan dominan kuning. Kita cukup mengetahui perkembangan tren, tapi kembali lagi ke garis rancangan masing-masing,” pungkasnya.
(Koran SI/Koran SI/tty)