MENGOMBINASIKAN citra modern dan tradisional dalam satu busana menjadi strategi tepat untuk menarik konsumen. Terbukti dari apa yang disajikan para desainer di atas catwalk.
Panggung mode, mulai New York hingga Paris, didominasi sentuhan tradisional yang dimodernisasi dengan gaya kontemporer. Nuansa tribal memang tidak pernah gagal memancing perhatian, seperti yang dikatakan Direktur Artistik Gucci Frida Giannini,
”Sesuatu yang eksotik akan membuat busana terlihat apik, unik, dan tentu saja menarik minat konsumen.” Atas dasar itu, Giannini pun menyuguhkan koleksi yang sarat dengan sentuhan tribal, bernapas bohemian, tetapi tetap tidak lepas dari jalur kontemporer.
Karl Lagerfeld malah dengan berani menyuguhkan koleksi yang mengembalikan kejayaan alam pedesaan tradisional ke atas catwalk Paris. Alasannya pun singkat. ”Karena rancangan yang seperti itu yang diinginkan konsumen,” ujarnya.
Kombinasi antara citra tradisional dalam garis rancangan kontemporer memang termasuk dalam garis besar tren mode global yang telah diramalkan Carlin Internasional, global trend forecaster, beberapa bulan lalu. Menurut Carlin, konsumen mode akan beralih pada gaya yang lebih individual tetapi memiliki cita rasa universal. more »
DARI Amerika, spotlight mode hijrah ke Inggris, tempat ”Sang Ratu” Vivienne Westwood dan label ikonik Burberry meramaikan catwalk London.
Royal Courts of Justice menjadi latar belakang nan spektakuler di pertunjukan milik Dame Vivienne Westwood untuk label sekundernya, Red Label. Fashion show Westwood tersebut merupakan yang kedua kalinya di catwalk London, setelah pertunjukan untuk ulang tahun ke-25 Pekan Mode London pada September tahun lalu. Untuk koleksi musim gugur, Westwood menampilkan gaya khasnya, gaun ringan beraksen draperi. more »
KOREA semakin mantap mengembangkan industri mode. Terlihat dari keseriusan pelaku mode dan pemerintah dalam menggalang kerja sama perdagangan tekstil serta ritel dengan buyer asing.
Salah satu pembeli yang dibidik Korea adalah Amerika Serikat. Karena itu, para desainer yang tergabung dalam Korean Federation of Design Association (KFDA) mengirimkan sembilan delegasinya untuk mempertunjukkan koleksi terbaru di hadapan pembeli di New York.
Ajang tersebut merupakan debut fashion Korea di pasar ritel Amerika. Para desainer yang tergabung dalam KFDA tersebut bekerja sama dengan Korea International Trade Association dan Korea Women Entrepreneurs Associations.
“Lewat acara ini, kami berusaha menunjukkan pada pembeli Amerika bahwa Korea memiliki produk fashion berkualitas yang bisa disejajarkan dengan desainer internasional dan tentunya sesuai dengan pasar Amerika,” ujar Soo Hyun-choi, desainer label Cubellia yang mempresentasikan koleksi mantel kashmir serta kemeja feminin berdetail ruffles.
“Rancangan saya bergaya feminin, elegan, praktis, dan sangat wearable. Gaya yang saya perhatikan digemari wanita Amerika,” sambung Soo.
Sementara untuk lini yang lebih couture, Korea mempersembahkan koleksi Jeone Mi-young yang membawa label Lilycomes Paris, atau Lee Young-hee serta An Yoon-jung yang menghadirkan rangkaian cocktail dress dengan hiasan sequin, bulu-bulu eksotis, serta kristal.
ANTING-ANTING selalu menjadi aksesori pendukung yang mempermanis penampilan. Anting-anting menjadi salah satu bentuk aksesori tertua yang dikenakan manusia setelah kalung.
Terbukti, dengan temuan sejarah berupa anting yang berasal dari Persia yang diperkirakan sudah berusia sejak tahun 2.500 SM. Dari temuan tersebut diketahui bahwa para bangsawan Mesir Kuno sudah menggunakan anting-anting, baik yang berbentuk lingkaran (hoop earings) maupun anting-anting menjuntai (dangling/ chandelier earings).
Di masa lampau, hanya para bangsawan saja yang menggunakan anting untuk menunjukkan satus sosial mereka. Ini terus berlanjut sampai pada abad pertengahan di Eropa. Pada masa tersebut, kaum hawa menggunakan perhiasan kepala yang besar dan berat dengan rambut yang ditata menutupi telinga sehingga seluruh bagian telinga tertutup rapat dengan aksesori kepala. Sedangkan di abad 17, anting-anting menjuntai menjadi populer dan lebih digemari dibandingkan dengan jenis anting lain seperti giwang. Pasalnya, anting jenis ini terbukti mampu membuat penampilan terlihat lebih mewah.
Terkenal dengan sebutan girandolle, anting-anting menjuntai yang panjang dan sangat berat karena bahan dasarnya terbuat dari emas dan perak dengan tiga susun batu-batuan berharga. Saking beratnya, membuat telinga para wanita pada saat itu tertarik memanjang karena beban perhiasan telinga jenis ini.
Di dekade 1920-an, saat model rambut bob pendek digemari, anting-anting menjuntai ini pun melejit popularitasnya. Karena dinilai sangat sesuai dengan gaya rambut berpotongan simpel seperti yang satu ini.
Label ternama Chanel tak mau ketinggalan dengan perkembangan perhiasan telinga. Merek papan atas ini pun mengeluarkan koleksi anting-anting menjuntai panjang serta kalung-kalung panjang yang cantik.
Di masa Perang Dunia II, anting-anting menjuntai surut popularitasnya. Diganti dengan giwang mungil dengan desain yang sederhana. Usai Perang Dunia II anting-anting menjuntai panjang kembali menjadi tren.
Saat ini anting menjuntai memang tidak lagi menjadi primadona dalam pelengkap penampilan, tetapi anting jenis ini tetap dipilih untuk memberi tampilan yang mewah dan istimewa karena banyak bintang Hollywood yang memilih jenis anting tersebut. Semisal saat menghadiri acara Grammy Awards 2010 yang berlangsung 31 Januari lalu. Beberapa aktris seperti Taylor Swift, Beyonce, Carrie Underwood tampil pede dengan anting-anting menjuntai yang dipermanis aksen batu.
GOTHIC menjadi tema utama koleksi Sofie untuk tren 2010. Rancangannya hadir gelap, mistis, dingin, namun di sisi lain juga penuh warna, embellishment, juga craftmanship yang menjadi signature-nya.
Seusai pertunjukan Malik Moestaram yang penuh warna serta energi di Jakarta Fashion Week (JFW) beberapa waktu lalu, panggung mode mendadak dingin. Musik latar berganti dengan nada yang lebih muram, menekan. Panggung gelap dan layar besar di mulut catwalk menyajikan gambar bulan purnama pucat yang menerangi malam. Ada dua kata terpampang dalam warna merah menyala, Sofie, Gothchic.
Sesuai dengan judul koleksi yang disajikannya, Sofie memang menghadirkan koleksi bergaya gothic. Gelap, muram, dingin. Warna-warna solid yang menjadi ciri khas busana gothic pun terlihat mendominasi koleksinya. Namun tidak hanya hitam, Sofie dengan lihai menambahkan kombinasi warna dalam nuansa gelap yang disajikannya.
Ya, gothic tidak harus selalu hitam dan hitam tidak berarti gothic. Di tangan Sofie, gothic tampil sedikit lembut. Gaya busana yang diadaptasi dari busana berkabung wanita di era Victorian itu memang kerap didominasi warna hitam, yang tidak hanya melekat pada busana, tapi juga tata rias. Di catwalk Sofie, dark mood terlihat kental dari tata rias, sementara busananya merupakan campuran citra muram ala gothic dengan sentuhan rebel ala punk rock. Menciptakan tampilan baru, yang disebut Sofie sebagai Gothchic.
“Inspirasinya datang dari bangunan-bangunan tua yang bernuansa gothic. Mistis, dingin, kukuh, dan tak lekang oleh masa,” tutur desainer bernama lengkap Ahmad Sofiyulloh ini.
Menurut Sofie, gedung-gedung tua tersebut menyimpan banyak cerita dan menjadi saksi bisu sejarah, saksi perubahan zaman. Itulah yang ingin disampaikan Sofie melalui koleksinya, bahwa gothic bisa mewakili masa lalu, masa kini, dan masa depan. Refleksi ide Sofie pun terlihat dari permainan warna-warna gelap yang dikombinasikan bersama napas etnik dari motif batik serta aplikasi manik juga metal.
Sofie pun tidak menampilkan koleksi bergaya feminin, melainkan bergaris androgyny. Hasilnya, rangkaian koleksi chic dengan added value dari batik, tie dye, juga lurik yang dikombinasikan dalam gaya neo punk.
Sisi kontemporer koleksi Sofie terlihat dari cutting yang dinamis. Potongan pendek menegaskan gaya praktis kaum urban, sementara kehadiran draperi menunjukkan kelembutan rancangan Sofie.
Highlight lainnya adalah ragam jaket pendek yang menjadi pelengkap busana. Bolero dan blazer pendek yang menyertai terusan ataupun padu padan celana dan blus justru menjadi “senjata” penarik perhatian, selain kombinasi acak dari batik dan lurik.
Sofie juga menunjukkan agresivitasnya dalam hal mix & match. Jodhpur bermotif bunga tampak menarik saat dipadu dengan cropped blazer, blus transparan, serta syal berornamen. Warna merah menjadi center of attention di antara palet-palet gelap dan secara keseluruhan mempertegas campuran gaya gothic dan neo punk yang hendak disampaikan Sofie.
Di kesempatan lain, Sofie mengombinasikan terusan berwarna pucat dengan cutting asimetris bermotif lurik dan batik bersama stoking hitam, fedora studs, heavy choker, serta ankle boots beraksen logam, menciptakan tampilan gothic nan lembut.
Ahli sejarah fashion Valerie Steele yang pernah menerbitkan buku berjudul “Gothic: Dark Glamor”, mengatakan bahwa gothic adalah gaya busana yang tidak lekang dimakan waktu.
“Gothic lebih dari sekadar hitam. Gothic adalah mood yang menunjukkan sisi gelap manusia dan gothic akan selalu hadir di setiap musim,” ujar Steele.
Kenapa? Alasannya, menurut Steele sangat sederhana, karena gothic didominasi hitam, warna yang diagungkan dalam mode.
“Hitam adalah warna yang harus selalu ada, dan karena itu gothic pun akan selalu ada,” terang Steele. “Kendati pun gothic terlihat sebagai anti-fashion, sebenarnya gothic adalah bagian dari fashion itu sendiri,” sambungnya.
Dan karena itulah, gothic terus berkembang dalam fashion dan menjelma menjadi berbagai gaya turunan. Pada ’70-an, gothic bersatu dengan punk dan melahirkan Sex Pistols beserta Siouxsie Sioux sebagai ikon kaum muda, sekaligus mengantar Vivienne Westwood membawa punk ke dalam lingkaran high fashion, saat sekali lagi gothic bertemu gaya Victorian klasik, lalu menjelma kembali sebagai gaya rebel kaum muda di seluruh dunia.
SEBANYAK 50 pakaian ready-to-wear dan gaun haute couture dari 40 desainer mancanegara dipamerkan dalam perayaan Tahun Biodiversity di Palais des Nation Geneva Switzerland. Selphie Bong, seorang desainer muda Indonesia turut dalam acara yang dihelat Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB/United Nations) ini.
Indonesia patut berbangga karena salah seorang anak bangsa, yakni Selphie Bong turut menyemarakkan perhelatan amal tersebut. Selphie bahkan merupakan desainer termuda di antara sederet desainer internasional lainnya. Didaulat menjadi bagian dari acara, Selphie membuat gaun linen hitam panjang yang beratnya hampir 8 kilogram.
Nama Selphi di kancah fesyen internasional mulai diperhitungkan. Memulai kiprahnya sejak dua tahun lalu, perancang berusia 22 tahun ini mengibarkan nama Indonesia lewat label BONG’S.
Selphie sudah sangat mengerti, bahkan telah mempraktikkan eco sustainable pada semua label pakaiannya. “Saya sangat tergila-gila dengan eco fashion, natural fiber, seperti linen, sutra, katun, dan banyak lagi. Saya sangat senang ketika klien saya memegang gaun saya dan mengatakan “Ini sutra”,” tuturnya.
Selphie menuturkan, publik sekarang semakin peduli dengan kelestarian alam sehingga memahami keberadaan eco fashion. “Kita seharusnya bersyukur, sutra dan linen sudah bisa dijangkau market manapun, dan semua orang sudah mampu menggunakan sutra,” katanya.
Dalam perhetalan tersebut, Selphie disejajarkan dengan desainer terkenal lainnya, seperti Thakoon Panichgul asal Thailand, Peter Ingwesen asal Belanda, Sarah Ratty asal London, dan Diane Von Furstenberg asal New York yang memiliki beberapa butik di mal Indonesia.
“Kami memilih desainer terbaik dunia, terbaik dalam desain dan terbaik dalam melestarikan budaya dan alam,” ucap Christina Dean, penyelenggara acara.
Peter Ingwesen, misalnya, menggunakan bahan katun yang berasal dari Uganda. Ingwersen’s menggunakan 100 persen katun organik untuk rancangan gaun malam warna hitam.
Pemilik label “Noir” ini menyatakan alasannya menggunakan bahan tersebut karena konsumen kini semakin perduli dengan pelestarian alam sehingga perdagangan bahan-bahan natural akan semakin pesat.
Sementara desainer Sarah Ratty, pemilik label “Ciel” ini menggunakan kain rami yang terbuat dari bahan natural. Kain ini sendiri masih awam digunakan, dan masih belum dipasarkan secara luas.
Beberapa isu lingkungan yang menjadi fokus kepedulian, adalah pemanasan global, hilangnya keanekaragaman hayati, buruh di bawah umur dalam industri tekstil terutama Asia, beberapa proses konvensional seperti wol kasar, penyamakan dan pemutihan kulit, pencelupan dan pencetakan tekstil menggunakan air dalam jumlah besar, penggunaan energi atau bahan kimia beracun, dan limbah.
“Industri mode telah menanggapi permintaan gaya berkelanjutan dan serat alami nampak bagus,” ujar Lucas Assuncao dari United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD)