Archive for » August, 2010 «

Kebaya Indonesia

Satu lagi hasil karya asli Indonesia, KEBAYA , seperti juga sejarah, mengalir mengikuti waktu, beradaptasi dengan zaman yang semakin maju dan memiliki cerita panjang yang bisa ditelusuri hingga abad ke-15 Masehi. Namun bukan hanya itu, kebaya juga menjadi simbol nasionalisme wanita Indonesia.

Dari sisi sejarah, kebaya merupakan bentukan busana atasan yang pertama kali dikenakan wanita Indonesia, terutama perempuan Jawa, yang digunakan bersama kain. Namun pada akhir abad ke-19, kebaya juga populer sebagai busana para perempuan Belanda yang membutuhkan pakaian yang cocok dengan iklim tropis Indonesia.

Selain itu, kebaya juga pernah populer di kalangan perempuan peranakan China sehingga muncul sebutan kebaya encim. Seiring berjalannya waktu, kebaya pun menjadi sebuah simbol feminisme, busana khas perempuan yang kini menjadi busana nasional. Perjalanan panjang kebaya pun ikut memengaruhi bentuk kebaya yang digunakan perempuan Indonesia.

Dokumentasi lama dari abad ke-19 milik keluarga keraton (Surakarta, Yogyakarta, Cirebon) di tanah Jawa masih merekam kebaya panjang ini dengan beberapa ornamen kenegaraan yang terpasang di beberapa sisinya. Gelang dan jam dikenakan di luar lengan kebaya, sementara bros serangkai tersemat di bagian depan membentuk suatu penutup. Jenis ini akhirnya merambah permainan bahan.

Katun kasar dan tenun tradisional tentu saja menjadi cikal bakalnya. Namun, beludru, sutra, dan katun halus kemudian menggantikan bahan-bahan keras sesuai dengan masuknya koloni Eropa ke Indonesia dan membuka jalur perdagangan tekstil antarnegara.

Kurun abad ke-19 dan masa pergerakan awal abad ke-20 adalah kala gemilang bagi kebaya, yang juga digunakan kaum pendatang Eropa dan China dengan ragam penyesuaiannya. Misalnya kebaya bangsawan dan keluarga keraton terbuat dari sutra, beludru, dan brokat dengan hiasan sulam emas, sementara golongan awam mengenakan bahan katun dan tenun kasar.

Kaum keturunan Eropa biasanya mengenakan kebaya berbahan katun halus dengan aksen lace di pinggirnya. Adapun kaum Tionghoa menggunakan kebaya dengan potongan yang lebih pendek dan sederhana, dengan hiasan yang berwarna, lazim disebut kebaya encim.

Seiring berjalannya waktu, kebaya berubah dan sempat tergerus zaman. Apalagi pada masa pendudukan Jepang, saat kreativitas dan produktivitas bangsa ditekan hingga level yang paling rendah.

Pendudukan Jepang di Indonesia memutus jalur perdagangan tekstil dan perlengkapan penunjangnya, akhirnya banyak rumah produksi kebaya tutup dan hanya sedikit perusahaan batik yang bisa bertahan.

Sejak masa itu, jejak kebaya sedikit terhapus, namun para wanita pejuang kemerdekaan yang masih menggunakan kebaya (kebanyakan jenis kebaya Kartini dan kebaya encim), kembali memopulerkannya, kendati harus bersaing dengan busana barat yang dianggap lebih “memerdekakan” perempuan dari simbolisasi kebaya masa lalu, yang mengungkung perempuan dalam lilitan korset dan kain panjang. Namun sekali lagi, anak bangsa membuktikan kreativitasnya.

Kebaya pun kembali bangkit dari keterpurukannya, bersama dengan maraknya batik, kebaya pun terangkat kepopulerannya. Sebut saja Rumah Mode Prajudi ataupun Iwan Tirta yang berjasa besar melestarikan busana nasional tersebut, sehingga kebaya pun terus lestari di tangan para generasi penerus.

Awal 1990-an, Ghea Panggabean menghadirkan kebaya “gaya baru” menggunakan material sutera organdi dengan sulaman khas keraton. Ghea pun berhasil meyakinkan bahwa kebaya bisa dipakai sebagai busana kontemporer dengan padu padan tidak terbatas hanya dengan kain panjang atau sarung.

Kebaya ala Ghea ini pun menjadi populer sebagai busana kaum elite, dan pada akhirnya banyak dikembangkan desainer lokal lain. “Kebaya itu unik karena sangat mudah beradaptasi terhadap setiap jenis bawahan, bisa dikenakan untuk setiap acara,dan seksi,” kata Ghea.

Tak heran bila kebaya bisa bertahan memasuki milenium baru dan tentu hal ini tidak terlepas dari jasa semua perancang yang mendesain kebaya sebagai busana kontemporer.

Ghea juga menjelaskan, awalnya perempuan di Indonesia mengenakan kain yang dililitkan di tubuh yang kemudian berkembang dengan atasan berkerah bulat atau berbentuk T.

“Karena waktu itu belum ada kancing, maka untuk menyatukan atasan yang memakai belahan tengah di bagian depan ini dipakai peniti dan bros,” sambungnya, menjelaskan industri bros dan aksesori lain yang ikut berkembang dengan kebaya.

Namun, bukan hanya di tangan Ghea kebaya modern berevolusi. Kita kini mengenal kebaya Ramli, Anne Avantie, Marga Alam, ataupun Amy Atmanto, para desainer yang serius menggarap kebaya dengan sentuhan kontemporer tanpa harus kehilangan nilai sejarahnya. Sebutlah Amy Atmanto yang setiap tahunnya selalu menghadirkan kreasi baru kebaya, baik secara pola, siluet, cutting, maupun material.

Di tangan Amy, kebaya bukan hanya berbahan sutra, katun, ataupun beludru, melainkan merambah ke jalur sifon, shantung, lace, ataupun jenis tekstil lainnya, yang kemudian ditingkahi teknik bordir, renda, pilin, lipit, layer hingga quilt untuk mewarnai kemegahan kebaya.

Tidak ketinggalan juga aplikasi ornamen penuh kilau macam payet, kristal, atau batu-batu mulia, sehingga kebaya bukan lagi sebuah busana, melainkan sebuah karya seni. Alasan itu juga yang membuat Amy menyebut setiap koleksinya sebagai masterpiece.

“Every piece is a masterpiece, karena dirancang dengan kekhasan tersendiri, khusus bagi masing-masing individu,” tutur desainer yang dipercaya menjadi ambasador Swarovski ini.

Incoming search terms for the article:


Topshop Pindah

Seperti biasa, bulan September semakin dekat, pelaku mode di New York, London, Milan, dan Paris semakin sibuk mempersiapkan pergelaran mode enam bulanan. Musim mendatang, London kembali akan merayakan pesta mode London Fashion Week yang mendapat jadwal tepat setelah New York Fashion Week.

Adapun lokasi utama pekan mode London akan bertempat di Somerset House di mana nama-nama besar seperti Matthew Williamson, Mark Fast, serta label ikonik Inggris Burberry akan mempertunjukkan koleksi terbaru musim semi dan musim panas 2011.

Rangkaian koleksi terbaru para peritel serta desainer muda layaknya Topshop, Meadham Kirchhoff, Michael Van Der Ham, Mary Katrantzou, Richard Nicoll, Peter Pilotto, dan Fashion East akan bertempat di lokasi baru, Eurostar Terminal, yang berada di seberang Waterloo Bridge, hanya beberapa menit dari lokasi utama.

Sebelumnya, Topshop mempertunjukkan koleksinya di University of Westminster dan kemudian hijrah ke Flower Cellars yang berlokasi di Russell Street. Adapun merayakan lokasi baru pertunjukan, Topshop menjanjikan pergelaran spektakuler, termasuk pelayanan katering istimewa. Seperti apa? Kita lihat saja nanti.


Pernikahan Adat Indonesia

KArena banyaknya suku dan adat istiadat di Indonesia maka pernikahan pun mejadi memiliki keunikan tersendiri di setiap daerah. Pernikahan merupakan suatu acara yang dinilai sakral untuk menyatukan dua insan yang hendak bersatu dan membentuk keluarga. Melalui pernikahan, tak hanya kedua insan yang akan berkepentingan, namun keluarga dari masing-masing mempelai juga akan menyatu. Pada hari kedua insan tersebut bertukar ikrar, kedua orangtua dan handai taulan akan saling memberi doa restu kepada mereka, beserta semat harapan untuk masa depan mereka.

Di Indonesia, ada banyak suku, masing-masing suku tersebut memiliki adat istiadatnya. Tetapi keberagaman tersebut memiliki kesamaan, salah satunya dalam menyambut hari pernikahan. Hari pernikahan di masing-masing suku dianggap menjadi suatu hal yang sakral dan perlu disambut dengan cara, kebiasaan, serta interpretasi yang berbeda-beda. Ini merupakan sebuah nilai budaya yang unik dan memiliki daya tarik tersendiri yang tak pelak harus dilestarikan. Sedikit banyak, hal-hal budaya semacam ini merupakan identitas bangsa kita.

Melihat pentingnya melestarikan budaya ini, Bella Donna Group dan Shangri La Hotel Jakarta bekerja sama menggelar acara pameran pernikahan adat yang diberi nama Mahligai Megah Nusantara. Acara yang berlangsung dari tanggal 14 hingga 17 Agustus 2010 di hotel Shangri La Jakarta ini akan menampilkan 7 budaya pernikahan Indonesia. Ketujuh budaya yang dikedepankan antara lain; Betawi, Batak, Minang, Palembang, Sunda, Jawa, dan China Peranakan.

“Tak hanya pameran, tetapi acara ini juga ditujukan untuk mengedukasi para pengunjung. Di antaranya, lewat dekorasi di masing-masing anjungan adat, ditambah lagi lewat tulisan keterangan di depan masing-masing anjungan, juga dengan pasangan pengantin yang mengenakan busana adat masing-masing budaya,” jelas Diany Pranata Chandra, selaku pimpinan Bella Donna Group.

Seperti yang dijelaskan Diany, yang bercita-cita untuk melestarikan budaya pernikahan tradisional sebelum diklaim oleh bangsa lain lagi, ajang ini dikreasikan untuk mengedukasi para calon mempelai mengenai adat pernikahan tradisional. Selain yang disebutkan di atas, para pengunjung bisa menikmati show tata cara umum pernikahan adat. Untuk hari ini, Minggu (15/8/2010), tertulis pada jadwal, akan ada show pernikahan suku Minang pada pukul 13.00, dilanjuti dengan peragaan busana Wangie Fashion House dan Ferry Setiawan pada pukul 14.00. Kemudian dilanjuti dengan traditional show adat Sunda, pada pukul 16.00, dan diakhiri dengan peragaan busana oleh Ivan Gunawan pada pukul 19.30.

Sementara esok, Senin (16/8/2010) akan ada perlombaan rias pengantin berturut-turut mulai dari PAES Modifikasi Nusantara, Non PAES Modifikasi Nusantara, dan Komersial Internasional mulai dari pukul 10.30. Diteruskan dengan peragaan busana cheong sam dari beberapa perancang, serta peragaan busana dari Widhi Budimulia pada pukul 16.30 hingga selesai. Pada hari terakhir, Selasa (17/8/2010), akan ada peragaan busana oleh APPMI pada pukul 13.00, lalu traditional show adat Betawi pada pukul 14.30, dan peragaan busana dari beberapa desainer lainnya.

Incoming search terms for the article:


IIFC, Titik Awal Indonesia Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia

SEBAGAI langkah awal kampanye pencanangan “Menuju Indonesia Menjadi Kiblat Muslim Fesyen Dunia pada 2020″, Indonesia Islamic Fashion Consortium (IIFC), menggelar Indonesia Islamic Fashion Fair (IFFF) pada 12 Agustus 2010.

Bertempat di Plaza Indonesia, Jakarta, IIFC memiliki beberapa tujuan, di antaranya menjadikan acara ini sebagai salah satu fesyen tahunan berskala internasional. Setara dengan Hong Kong Fashion Week, New York Fashion Week, dan Paris Fashion Week.

IIFF juga diharapkan bisa membuka jalan dan memfasilitasi pelaku fesyen muslim Indonesia menjadi pemasok fesyen muslim tingkat dunia, sekaligus menjadikan Indonesia sebagai Kiblat Fesyen Muslim Dunia pada 2020.

“Anggota APPMI yang berjumlah 180 terdiri dari 30 anggota yang berkecimpung di bisnis busana muslim. Indonesia menjadi pusat busana muslim di tahun 2020. Saya pikir, masuk akal untuk kita berbenah diri, yang dimana stakeholder ada di sini. Di mana tahun depan mungkin makin banyak stakeholder yang bergabung akan membuat acara ini lebih besar. Artinya, akan membuat lebih menampung sumber daya manusia untuk dikaryakan. Jadi ini sebetulnya harus menjadi gerakan nasional,” papar Taruna Kusmayadi, Chairman IIFF dalam konferensi pers Indonesia Islamic Fashion Consortium di Multi Function Hall, Plaza Indonesia, Jakarta, Selasa (3/7/2010).
more »

Incoming search terms for the article: