Barisan desainer muda kini tanpa ragu terjun di bisnis ready-to-wear ketimbang bergulat dengan haute couture dan custom made. Di industri mode, tidak bisa dimungkiri,yang menjadi kekuatan roda pemutar uang sebuah brand adalah lini siap pakai.Jika istilah haute couture dari lini primer meneriakkan prestise dan status,maka rangkaian ready-to-wear yang ditempatkan di lini sekunder adalah simbol pundi uang. Hal tersebut bisa dilihat melalui barisan pekan mode berskala internasional yang terbentang dari New York hingga Tokyo.
Para desainer yang terlibat di dalam sejumlah pekan mode tersebut menghadirkan koleksi busana siap pakai yang praktis bagi kaum urban dengan mobilitas tinggi.Adapun mereka yang ingin tampil lebih gaya, bisa memilih koleksi yang lebih edgy dengan twist dan detail unik yang disematkan perancang.Namun, itu pun tetap dalam jalur ready-to-wear, lini koleksi yang mendatangkan pundi-pundi bagi pelaku mode.
Lalu,apa yang terjadi dengan haute couture atau adibusana,yang sejarahnya bisa dirunut hingga era Raja Louis XV? Hillary Alexander, Fashion Director The Telegraph, menyebutkan bahwa era haute couture sebagai bahasa mode telah berakhir saat konsumen memutuskan lebih membutuhkan busana yang bisa mengakomodasi kegiatan mereka sehari-hari. Haute couture pun berubah statusnya menjadi niche di dunia mode yang kental dengan citra eksklusif.
more »