SETIAP kali manggung, penyanyi Afgan selalu berhasil menarik perhatian penonton. Tidak hanya lantunan suaranya yang bagus, tetapi penampilannya juga menarik dan tidak pasaran.
Usut punya usut, busana yang selalu dikenakan Afgan setiap kali manggung adalah hasil rancangan seorang desainer.
“Jujur, untuk urusan busana manggung saya termasuk smart shopper. Saya meminta bantuan jasa seorang desainer sekaligus teman sekolah. Jadi, harganya lebih murah,” katanya. Afgan mengaku temannya itu lulusan dari Raffles Design Institute, Singapura.
Lantas, berapa bujet untuk satu busana manggung? “Paling mahal Rp5 juta. Saya kurang suka menghambur-hamburkan uang untuk membeli busana dengan nilai jutaan,” tutupnya.
Kalau hari ini ditanya, pakaian / kaos / jaket apa yang paling laku bin laris di Indonesia saat ini yaitu Pakaian / kaos timnas sepakbola kita yaitu merah dengan gambar garuda disebelah kiri bergambar garuda lambang negara kita.
Beberapa hari ini pembelian kaos maupun jaket timnas sepakbola Indonesia sulit bahkan harga cenderung naik. Apalagi hari ini Indonesia bisa menang lawan Philipina sehingga bisa masuk Final lawan Malaysia.
Untuk membelipun para pedagang harus antri, antusias / animo masyarakat sangat tinggi sehingga stock grosir pun cepat habis. Kaos garuda di dadaku sekarang menjadi incaran banyak orang, maklum bangsa ini lagi bangga banget sama timnas sepakbola. Tapi apapun itu yang penting masyarakat mendapat suguhan tontonan di televisi yang tidak terus menerus politik, korupsi dan lainnya. Kalau seperti ini, Indonesia bisa main terus dengan baik Juara AFF akan ditangan. Yang memakai kaos garuda didadaku akan bertambah banyak.
Ekonomi akan tumbuh, karena pedagang untung, masyarakat bersatu dan bersemangat, kondisi aman. Seluruh dunia akan melihat selain tempat investasi aman, tapi masyarakat juga baik. KAOS INDONESIA, TIMNAS SEPAKBOLA INDONESIA menjadi incaran masyarakat, Ayo beli, setidaknya itulah yang bisa mempererat kesatuan kita.
Ditetapkannya batik sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO, dan peringatannya setiap tanggal 2 Oktober, seharusnya membuat kita semakin memahami apa yang disebut sebagai batik. Yang dijadikan warisan budaya tersebut adalah proses membatiknya, bukan kain dengan motif batik seperti yang kerap dipersepsikan orang kebanyakan. Proses membatik akan menghasilkan batik dengan jenis tulis, yang harganya berkali-kali lipat dibandingkan dengan batik yang melalui proses cap atau printing. Mengapa pula harga selembar kain batik tulis bisa mencapai jutaan hingga puluhan juta rupiah?
Bayangkan saja, sehelai kain ukuran 2,5 m yang menampilkan suatu karya batik, ternyata membutuhkan waktu pembuatan hingga tiga bulan. Proses pembuatan yang begitu lama jelas menuntut kesabaran, ketelitian, dan cita rasa yang tinggi. Bagaimanapun, nilai batik akan meningkat bila pembatik mampu menghasilkan batik dengan tingkat kesulitan yang tinggi.
“Nilai jualnya tergantung dari keunikan kainnya, batikan, dan warnanya. Kalau desainnya langka, dan tak bisa ditiru, itu akan menentukan harganya,” jelas Nur Cahyo, pemilik Rumah Batik Cahyo, saat menemani wartawan menyaksikan berbagai tahapan pembuatan batik di tempat workshop-nya di Desa Setono, Pekalongan, Kamis (16/12/2010).
Proses pembuatan batik juga melibatkan banyak orang dengan keahliannya masing-masing. Dari tahap awal, yaitu pembuat pola yang membuat desain batik (molani), pembatik -yang memindahkan pola ke atas kain, dan melukisnya dengan menggunakan canting, lalu menutup bagian-bagian yang tidak berwarna dengan lilin (malam), pewarnaan, nglorod (proses membilas atau meluruhkan lapisan malam), hingga mencuci dan kemudian menjemurnya hingga siap dipakai.
Seorang yang menguasai pembuatan batik tentu mampu melakukan seluruh tahapan ini. Termasuk, dos & don’ts dalam melakukan setiap tahapan tersebut.
Cahyo, misalnya, sudah 15 tahun ia mencurahkan seluruh hidupnya untuk melanjutkan usaha batik milik ayahnya. Cahyo mampu mengolah desain batik, menciptakan warna yang dihasilkan dari bahan-bahan alami seperti kayu tingi, secang, mahoni, jambal, tegeran, atau jelawe. Ia lah yang bertindak dalam membuat komposisi yang pas antara kayu satu dengan kayu lainnya, hingga tercipta suatu warna yang diinginkannya.
Cahyo adalah salah satu contoh pembatik yang mengutamakan kualitas, mengejar kesempurnaan hingga semaksimal mungkin. “Saya pernah ditawari untuk menitipkan batik buatan saya (Cahyo menyebutkan outlet besar produk-produk budaya di sebuah pusat perbelanjaan terkemuka di Jakarta), tapi saya tolak. Karena, saya ini dasarnya pembatik,” katanya.
Cahyo mengejar kepuasan batin dengan menghasilkan batik yang berkualitas tinggi. Selembar kain batik karyanya yang berukuran 2,5 m dari bahan katun bisa dihargai hingga Rp 3 juta. Sedangkan batik dari bahan sutera nilainya bisa mencapai Rp 15 juta.
Cahyo tidak memungkiri, ia tetap membutuhkan keuntungan dalam waktu cepat untuk memberi nafkah bagi 50-an pembatik yang menjadi karyawannya, sekaligus untuk biaya operasional pembuatan batiknya. Oleh karena itu, Cahyo juga memproduksi batik sebagai second line dengan merek Norma, yang lebih cepat pengerjaannya.
“Batik yang ini harganya lebih terjangkau, menggunakan bahan pewarna kimia. Tidak semuanya batik cap, ada juga yang tulis,” paparnya. Batik tulis yang harganya lebih terjangkau ini umumnya menggunakan katun.
Banyak hal yang bisa menghambat pengerjaan sehelai batik, dan mengharuskan pembatik mengulangi pembuatannya dari awal. Misalnya, pelukisan dengan lilin yang blobor akibat cairan lilin yang tidak pas kekentalannya. Atau, kegagalan saat proses pewarnaan. Kalau sudah begini, pembatik tentu mengalami kerugian seperti hilangnya lembaran kain berbahan sutera yang nilainya mencapai jutaan.
“Itu sering terjadi, dan mau tidak mau kita harus menerimanya. Anda harus membayar kegagalan itu dengan menikmati seluruh prosesnya. Enjoy the process, enjoy the moment. Kita tidak akan menjadi pembatik yang andal jika tidak melalui proses kegagalan itu,” tutur desainer Edward Hutabarat, dalam kesempatan yang sama.
Di luar urusan teknis, masih ada kendala sosial yang menghambat proses pembuatan batik. Banyak pembatiknya yang menikah, mempunyai anak, dan memutuskan berhenti bekerja. “Padahal regenerasi kan harus terus berlangsung. Akhirnya saya harus mencari pembatik lagi, entah dari keluarga atau teman-temannya,” kata Cahyo.
Dalam rangkaian kampanyenya sebagai upaya melestarikan batik, PT Kao Indonesia berkolaborasi desainer Edward Hutabarat. Bersama produsen sabun khusus pencuci batik Attack Batik Cleaner itu, Edward telah melakukan perjalanan mengenal batik ke kota-kota penghasil batik di Jawa. Kini, untuk merayakan 30 tahun dirinya berkarya, Edward mengundang wartawan untuk menengok kegiatan para pembatik di Pekalongan, Jawa Tengah.
Edward merasa perlu mengajak masyarakat untuk lebih peduli dengan proses pembuatan batik, bukan sekadar mengagumi kecantikan batik secara fisik.
“Batik tidak akan berkembang kalau kita tidak tahu akarnya. Karena itu saya ingin mengajak Anda melihat batik dari akarnya, dari kulinernya, bagaimana proses membatik, bagaimana para perempuan pembatik itu duduk selama delapan jam, tanpa bersandar, untuk membatik. Dan, ada yang melakukan hal ini hingga 50 tahun! Singkatnya, there is a long story behind the making of batik,” tutur pria yang akrab disapa Edo ini, dalam bincang-bincang santai di Rumah Batik Cahyo, Desa Setono, Pekalongan, Kamis (16/12/2010).
Ketidaktahuan masyarakat mengenai proses panjang dalam pembuatan batik inilah yang menjadikan batik saat ini baru sekadar tren. Hal ini bisa diamati sejak 2007, ketika tren batik mulai muncul. Namun setelah itu, batik mengalami pasang-surut peminat.
Banyak hal menarik seputar kehidupan para pembatik yang ditemukannya setelah mengunjungi sekitar 200 tempat pembuatan batik. Para pembatik menggunakan cita rasa dan estetika dalam menghasilkan sehelai kain batik. Setiap goresan canting dalam proses pembuatan batik melibatkan emosi dan membawa banyak aspek kehidupan maupun lingkungan di sekitarnya.
Mengamati proses pembuatan batik juga akan membuat kita terasa menyatu dengan alam. Di tempat workshop Batik Cahyo, misalnya, Edo mengajak melihat pekarangan belakang dimana terlihat berlembar-lembar batik cap dari bahan sutera karyanya tengah dijemur setelah melalui proses pewarnaan. Langit yang cerah dan hembusan angin di sela-sela rindangnya pepohonan membuat batik-batik tersebut berkibar dengan gemulai dalam warna-warna sogan, hijau, dan biru, yang menakjubkan.
“Gila enggak pemandangannya? Coba, dimana Anda bisa menyaksikan pemandangan seperti ini? Ada hijaunya rumput ilalang, pagar dari bambu, pohon-pohon angsana…. Ini namanya ecology,” seru Edo.
Dengan melihat langsung keindahan lain di balik pembuatan batik ini, Edo ingin kecintaan dan kebanggaan akan keluhuran budaya Indonesia tidak akan pernah pudar.
Semenjak Batik ditetapkan menjadi warisan leluhur milik bangsa Indonesia, maka Batik sudah tidak menjadi milik para orang tua (biasanya dibuat kondangan) tapi menjadi tren kalangan muda juga. Sampai-sampai pakaian yang dulu dipakai (bergaris atau hanya warna) terlihat menjadi kurang bagus.
MAklum Batik di lemari saya penuh, setiap 3 bulan sekali mendapat BAtik, baik dari sekolah-sekolah tempat saya mengajar dan Perusahaan. Batik akhirnya bisa dipakai setiap saat, tidak kikuk memakainya. Apalagi Batik yang berasal dari kain Sutera plus. Sangat menarik dan terlihat beda dengan batik biasa.
PAkaian BAtik menjadi kewajiban yang dipakai setiap hari kamis-sabtu, sedangkan di beberapa perusahaan bisa hari lainnya. BAtik… PAkaianku Hari ini ..
SUKSES mendandani Qory Sandioriva di ajang Miss Universe 2010 tak membuat aktivitas Lenny Agustin berhenti. Desainer kaya kreativitas ini kembali terlibat dalam ajang Pemilihan Puteri Indonesia 2010.
“Saya senang bisa men-support Pemilihan Puteri Indonesia. Ajang ini punya tujuan memberdayakan perempuan. Jadi, saya terlibat dalam mendukung kemajuan perempuan-perempuan Indonesia,” tutur Lenny Agustin yang ditemui okezone di Hotel Ritz Carlton Kuningan, Jakarta, Rabu (29/9/2010).
Menurut Lenny, dirinya diberikan kepercayaan merancang 38 busana yang akan dikenakan seluruh finalis di acara malam puncak Puteri Indonesia 2010 di Assembly Hall, Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta Pusat, 8 Oktober mendatang.
“Saya mengambil tema ‘Lautan Indonesia’. Dalam tema tersebut, saya membaginya lagi menjadi empat subtema, yaitu ‘Air Laut, Ganggang, Terumbu Karang’, dan ‘Ikan’,” jelas desainer yang kini bergabung dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) DKI Jakarta ini.
Menurut pemilik label Lenny Agustin ini, pemilihan warna busananya pun disesuaikan dengan empat subtema. Misalnya, “Air Laut” menonjolkan busana dengan warna gradasi biru, Sementara “Ganggang” memakai busana dengan warna lebih dusty, dan “Ikan” dengan warna busana lebih colorful. Satu lagi untuk “Terumbu Karang”, Lenny banyak mengeskpos busana berwarna gelap.
“Di sini saya enggak terlalu menonjolkan karakter desain busana Lenny Agustin. Saya mengikuti tema dari panitia, sehingga busananya lebih berkesan elegan, playful dan fun. Kali ini saya coba bikin gebrakan baru,” tukas Lenny menyebut busananya banyak mengekspos mini dress dan busana two pieces. berita ini dikutip dari okezone
ENFANT terrible of British Fashion menjadi sebutan baginya. Memulai kariernya sebagai desainer kostum untuk teater, Gareth Pugh menjadi salah satu desainer Inggris yang paling dicari berkat karya-karyanya yang unik, berani, dan edgy.
Cerita Pugh sebagai desainer bisa dikatakan bagai kisah Cinderella di dunia fashion. Di usia 14 tahun, pria kelahiran 31 Agustus 1981 tersebut sudah bekerja keras membanting tulang sebagai desainer kostum untuk National Youth Theatre, Inggris. Dari situlah kecintaannya pada fashion muncul.
Dia pun kemudian mengambil sekolah mode di Sunderland College dan Central Saint Martins. Desain Pugh yang menjadi tugas akhir sebelum lulus dari Central Saint Martins berupa gaun dengan aksen balon, ternyata menarik perhatian editor mode dari majalah Dazed & Confused.
Rancangan tersebut kemudian menjadi cover dari majalah tersebut. Dari situ, namanya mulai terangkat dan dengan segera Pugh memasuki ingar-bingar dunia fashion, bahkan tampil di acara reality show The Fashion House dan langsung melakukan debut di sebuah acara bagi desainer muda, Kashpoint’s Alternative Fashion Week di London.
Acara tersebut menempatkan Pugh dalam deretan desainer muda bertalenta, namun bukan tanpa kerja keras. Untuk mengikuti acara tersebut, Pugh harus mempersiapkan koleksi lengkap dalam waktu empat minggu.
“Itu merupakan saat yang paling gila. Saya tidak punya studio, asisten, dan hanya memiliki sedikit uang,” kenangnya, dalam sebuah wawancara, seperti dilansir Style.com.
Siapa yang menyangka bila saat itu akan menjadi moment of success dari Pugh. Pengamat mode yang hadir dalam acara tersebut memberinya respons positif dan tentu saja membuat Pugh mendapat lebih banyak konsumen.
Sukses lalu membawa Pugh menginjakkan kaki di London Fashion Week, gerbang bagi para desainer muda untuk mencapai prestasi internasional. Alexander McQueen dan Vivienne Westwood pun memulai karier gemilang sebagai desainer internasional papan atas di London dan begitu juga dengan Gareth Pugh. more »
Satu lagi hasil karya asli Indonesia, KEBAYA , seperti juga sejarah, mengalir mengikuti waktu, beradaptasi dengan zaman yang semakin maju dan memiliki cerita panjang yang bisa ditelusuri hingga abad ke-15 Masehi. Namun bukan hanya itu, kebaya juga menjadi simbol nasionalisme wanita Indonesia.
Dari sisi sejarah, kebaya merupakan bentukan busana atasan yang pertama kali dikenakan wanita Indonesia, terutama perempuan Jawa, yang digunakan bersama kain. Namun pada akhir abad ke-19, kebaya juga populer sebagai busana para perempuan Belanda yang membutuhkan pakaian yang cocok dengan iklim tropis Indonesia.
Selain itu, kebaya juga pernah populer di kalangan perempuan peranakan China sehingga muncul sebutan kebaya encim. Seiring berjalannya waktu, kebaya pun menjadi sebuah simbol feminisme, busana khas perempuan yang kini menjadi busana nasional. Perjalanan panjang kebaya pun ikut memengaruhi bentuk kebaya yang digunakan perempuan Indonesia.
Dokumentasi lama dari abad ke-19 milik keluarga keraton (Surakarta, Yogyakarta, Cirebon) di tanah Jawa masih merekam kebaya panjang ini dengan beberapa ornamen kenegaraan yang terpasang di beberapa sisinya. Gelang dan jam dikenakan di luar lengan kebaya, sementara bros serangkai tersemat di bagian depan membentuk suatu penutup. Jenis ini akhirnya merambah permainan bahan.
Katun kasar dan tenun tradisional tentu saja menjadi cikal bakalnya. Namun, beludru, sutra, dan katun halus kemudian menggantikan bahan-bahan keras sesuai dengan masuknya koloni Eropa ke Indonesia dan membuka jalur perdagangan tekstil antarnegara.
Kurun abad ke-19 dan masa pergerakan awal abad ke-20 adalah kala gemilang bagi kebaya, yang juga digunakan kaum pendatang Eropa dan China dengan ragam penyesuaiannya. Misalnya kebaya bangsawan dan keluarga keraton terbuat dari sutra, beludru, dan brokat dengan hiasan sulam emas, sementara golongan awam mengenakan bahan katun dan tenun kasar.
Kaum keturunan Eropa biasanya mengenakan kebaya berbahan katun halus dengan aksen lace di pinggirnya. Adapun kaum Tionghoa menggunakan kebaya dengan potongan yang lebih pendek dan sederhana, dengan hiasan yang berwarna, lazim disebut kebaya encim.
Seiring berjalannya waktu, kebaya berubah dan sempat tergerus zaman. Apalagi pada masa pendudukan Jepang, saat kreativitas dan produktivitas bangsa ditekan hingga level yang paling rendah.
Pendudukan Jepang di Indonesia memutus jalur perdagangan tekstil dan perlengkapan penunjangnya, akhirnya banyak rumah produksi kebaya tutup dan hanya sedikit perusahaan batik yang bisa bertahan.
Sejak masa itu, jejak kebaya sedikit terhapus, namun para wanita pejuang kemerdekaan yang masih menggunakan kebaya (kebanyakan jenis kebaya Kartini dan kebaya encim), kembali memopulerkannya, kendati harus bersaing dengan busana barat yang dianggap lebih “memerdekakan” perempuan dari simbolisasi kebaya masa lalu, yang mengungkung perempuan dalam lilitan korset dan kain panjang. Namun sekali lagi, anak bangsa membuktikan kreativitasnya.
Kebaya pun kembali bangkit dari keterpurukannya, bersama dengan maraknya batik, kebaya pun terangkat kepopulerannya. Sebut saja Rumah Mode Prajudi ataupun Iwan Tirta yang berjasa besar melestarikan busana nasional tersebut, sehingga kebaya pun terus lestari di tangan para generasi penerus.
Awal 1990-an, Ghea Panggabean menghadirkan kebaya “gaya baru” menggunakan material sutera organdi dengan sulaman khas keraton. Ghea pun berhasil meyakinkan bahwa kebaya bisa dipakai sebagai busana kontemporer dengan padu padan tidak terbatas hanya dengan kain panjang atau sarung.
Kebaya ala Ghea ini pun menjadi populer sebagai busana kaum elite, dan pada akhirnya banyak dikembangkan desainer lokal lain. “Kebaya itu unik karena sangat mudah beradaptasi terhadap setiap jenis bawahan, bisa dikenakan untuk setiap acara,dan seksi,” kata Ghea.
Tak heran bila kebaya bisa bertahan memasuki milenium baru dan tentu hal ini tidak terlepas dari jasa semua perancang yang mendesain kebaya sebagai busana kontemporer.
Ghea juga menjelaskan, awalnya perempuan di Indonesia mengenakan kain yang dililitkan di tubuh yang kemudian berkembang dengan atasan berkerah bulat atau berbentuk T.
“Karena waktu itu belum ada kancing, maka untuk menyatukan atasan yang memakai belahan tengah di bagian depan ini dipakai peniti dan bros,” sambungnya, menjelaskan industri bros dan aksesori lain yang ikut berkembang dengan kebaya.
Namun, bukan hanya di tangan Ghea kebaya modern berevolusi. Kita kini mengenal kebaya Ramli, Anne Avantie, Marga Alam, ataupun Amy Atmanto, para desainer yang serius menggarap kebaya dengan sentuhan kontemporer tanpa harus kehilangan nilai sejarahnya. Sebutlah Amy Atmanto yang setiap tahunnya selalu menghadirkan kreasi baru kebaya, baik secara pola, siluet, cutting, maupun material.
Di tangan Amy, kebaya bukan hanya berbahan sutra, katun, ataupun beludru, melainkan merambah ke jalur sifon, shantung, lace, ataupun jenis tekstil lainnya, yang kemudian ditingkahi teknik bordir, renda, pilin, lipit, layer hingga quilt untuk mewarnai kemegahan kebaya.
Tidak ketinggalan juga aplikasi ornamen penuh kilau macam payet, kristal, atau batu-batu mulia, sehingga kebaya bukan lagi sebuah busana, melainkan sebuah karya seni. Alasan itu juga yang membuat Amy menyebut setiap koleksinya sebagai masterpiece.
“Every piece is a masterpiece, karena dirancang dengan kekhasan tersendiri, khusus bagi masing-masing individu,” tutur desainer yang dipercaya menjadi ambasador Swarovski ini.
KArena banyaknya suku dan adat istiadat di Indonesia maka pernikahan pun mejadi memiliki keunikan tersendiri di setiap daerah. Pernikahan merupakan suatu acara yang dinilai sakral untuk menyatukan dua insan yang hendak bersatu dan membentuk keluarga. Melalui pernikahan, tak hanya kedua insan yang akan berkepentingan, namun keluarga dari masing-masing mempelai juga akan menyatu. Pada hari kedua insan tersebut bertukar ikrar, kedua orangtua dan handai taulan akan saling memberi doa restu kepada mereka, beserta semat harapan untuk masa depan mereka.
Di Indonesia, ada banyak suku, masing-masing suku tersebut memiliki adat istiadatnya. Tetapi keberagaman tersebut memiliki kesamaan, salah satunya dalam menyambut hari pernikahan. Hari pernikahan di masing-masing suku dianggap menjadi suatu hal yang sakral dan perlu disambut dengan cara, kebiasaan, serta interpretasi yang berbeda-beda. Ini merupakan sebuah nilai budaya yang unik dan memiliki daya tarik tersendiri yang tak pelak harus dilestarikan. Sedikit banyak, hal-hal budaya semacam ini merupakan identitas bangsa kita.
Melihat pentingnya melestarikan budaya ini, Bella Donna Group dan Shangri La Hotel Jakarta bekerja sama menggelar acara pameran pernikahan adat yang diberi nama Mahligai Megah Nusantara. Acara yang berlangsung dari tanggal 14 hingga 17 Agustus 2010 di hotel Shangri La Jakarta ini akan menampilkan 7 budaya pernikahan Indonesia. Ketujuh budaya yang dikedepankan antara lain; Betawi, Batak, Minang, Palembang, Sunda, Jawa, dan China Peranakan.
“Tak hanya pameran, tetapi acara ini juga ditujukan untuk mengedukasi para pengunjung. Di antaranya, lewat dekorasi di masing-masing anjungan adat, ditambah lagi lewat tulisan keterangan di depan masing-masing anjungan, juga dengan pasangan pengantin yang mengenakan busana adat masing-masing budaya,” jelas Diany Pranata Chandra, selaku pimpinan Bella Donna Group.
Seperti yang dijelaskan Diany, yang bercita-cita untuk melestarikan budaya pernikahan tradisional sebelum diklaim oleh bangsa lain lagi, ajang ini dikreasikan untuk mengedukasi para calon mempelai mengenai adat pernikahan tradisional. Selain yang disebutkan di atas, para pengunjung bisa menikmati show tata cara umum pernikahan adat. Untuk hari ini, Minggu (15/8/2010), tertulis pada jadwal, akan ada show pernikahan suku Minang pada pukul 13.00, dilanjuti dengan peragaan busana Wangie Fashion House dan Ferry Setiawan pada pukul 14.00. Kemudian dilanjuti dengan traditional show adat Sunda, pada pukul 16.00, dan diakhiri dengan peragaan busana oleh Ivan Gunawan pada pukul 19.30.
Sementara esok, Senin (16/8/2010) akan ada perlombaan rias pengantin berturut-turut mulai dari PAES Modifikasi Nusantara, Non PAES Modifikasi Nusantara, dan Komersial Internasional mulai dari pukul 10.30. Diteruskan dengan peragaan busana cheong sam dari beberapa perancang, serta peragaan busana dari Widhi Budimulia pada pukul 16.30 hingga selesai. Pada hari terakhir, Selasa (17/8/2010), akan ada peragaan busana oleh APPMI pada pukul 13.00, lalu traditional show adat Betawi pada pukul 14.30, dan peragaan busana dari beberapa desainer lainnya.
AJANG Islamic Fashion Festival 2010 kembali digelar. Mengusung tema ”Cita Nusantara”, para desainer dari Indonesia dan Malaysia mendapat tantangan mengolah puluhan jenis kain menjadi lebih modern dan wearable.
Seperti tahun sebelumnya, para perancang yang ikut berpartisipasi di ajang Islamic Fashion Festival (IFF) kesembilan ini bukan wajah baru lagi. Mereka adalah perancang pilihan yang setia mendukung ajang kolaborasi dua negara untuk mewujudkan Jakarta dan Kuala Lumpur sebagai ibu kota busana muslim dunia.
Para desainer Indonesia yang ikut berpartisipasi selama pergelaran IFF, di antaranya Merry Pramono, Iva Latifah, Erni Kosasih, Hannie Hananto, Alphiana Chandrayani, Anne Rufaidah, Jenny Tjahyawati, Safitri, Ida Royani, Zainal Songket, Nuniek Mawardi, Ian Adrian, Milo, Samuel Wattimena, dan Ghea Panggabean. Sementara dari Malaysia diwakili Tom Abang Saufi, Melinda Looi, Khadani, Noraini Jarumas, Kraftangan Malaysia, dan Mona Din Hajaba.
”Alhamdulillah IFF tahun ini bisa terselenggara dan hanya membutuhkan waktu satu bulan. Kami menggelar IFF selama dua hari, mulai dari 29-30 Juni 2010. Tadinya tidak ada rencana digelar di Jakarta, karena tahun ini kami lagi banyak melakukan promosi. Belum lama ini kami memperkenalkan busana muslim di New York,” tutur Founder & Chairman IFF Dato’ Raja Rezza Shah kepada okezone seusai pergelaran busana, Selasa (28/6/2010).
Rezza –panggilan akrab Dato’ Raja Rezza Shah- mengatakan, saat ini sudah saatnya masyarakat internasional (Barat) mengenal busana muslim bisa tampil cantik. Pasalnya, tidak sedikit dari mereka yang masih menilai bahwa busana muslim identik dengan pakaian hitam-hitam. more »