Sarah Jessica Parker (45) suka berbelanja pakaian di toko yang menjual busana bekas biasanya dalam rangka pengumpulan dana bantuan kemanusiaan. Di sana ia bisa memperoleh pakaian yang tak dimiliki oleh orang lain.
“Saya tetap percaya kepada toko pakaian bekas–itu merupakan satu-satunya tempat di mana anda dijamin bisa menemukan sesuatu yang sangat unik,” katanya.
Bagaimanapun, ibu dari tiga anak–James (7) serta si kembar Marion dan Tabitha (10 bulan)–ini juga masih suka busana karya perancang fashion. Namun, ia mengutamakan pakaian yang cocok untuk sehari-hari.
“Saya sangat suka pakaian yang indah, dibikin dengan baik. Saya jarang berbelanja. Jadi, saya memilih busana yang awet. Saya suka memadukan busana vintage dengan yang dibuat oleh para perancang yang lebih baru,” tuturnya. “Tapi, saya mengenakan apa yang praktis karena saya seorang ibu. Saya berjalan kaki mengantar anak laki-laki saya ke sekolah dan saya tidak ingin mengecewakannya,” sambungnya.
GAUN Princess of Wales yang dirancang David Emanuel untuk sebuah acara pesta pada 1981 laku terjual seharga 192 ribu Poundsterling atau setara dengan Rp 2,6 miliar. Harga tersebut jauh melebihi perkiraan awal lelang seharga 50 ribu Poundsterling.
Gaun taffeta berjulukan ”Daring Di” tersebut dibeli Jorge Karur, pemilik museum mode Museo de la Mode di Santiago, Cile.
”Gaun Putri Diana jatuh ke tangan Jorge Karur yang saya yakin akan merawat gaun spesial tersebut dengan sangat baik. Sebelumnya, gaun tersebut hanya tersimpan begitu saja di garasi David Emanuel,” ujar kurator lelang Kerry Taylor.
Selain itu, Taylor mengatakan telah mendapat pemberitahuan pribadi dari Karur bahwa jika Karur meninggal, maka seluruh gaun Putri Diana yang dia miliki akan langsung disumbangkan kepada Kensington Palace. more »
Berbusana di musim panas tak hanya berasal dari pantai saja. Banyak cara untuk tampil gaya ketika jalan-jalan di mal ataupun sekadar hang out dan menghabiskan waktu bersama keluarga dengan tampilan sesederhana mungkinsantai dan enak dilihat. Bila gaun maxi sering kali kamu pakai, kini saatnya kamubisa mencuri ide fesyen dari selebriti. Hanya sekadar untuk liburan, ataupun bersantai dan bercengkerama dengan teman, kamu bisa memilih busana yang simpel dan kasual, namun tetap bergaya chic dalam balutan denim.
Di Hollywood sendiri, dress berbahan denim merupakan salah satu tren terbesar yang menjamur di musim ini. Salah satu aktris yang memopulerkan denim adalah Jessica Alba. Bintang ”The Fantastic Four” ini memang jagonya berdandan manis. Alba mengenakan dress denim dengan desain elegan pada bagian leher-menyerupai celemek-di mana dulu busana ini memang sempat populer pada tahun 1990-an di dunia catwalk maupun pada fesyen high street. more »
KITA mengenal batik Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Cirebon, dan Garut. Bagaimana dengan batik Bandung? Dibanding para sepupunya yang bergaya klasik, batik Bandung justru tampil kontemporer dengan gaya abstrak yang dicipta lewat puisi.
Pencipta Batik Bandung tersebut adalah Tetet Cahyati Popo Iskandar, putri dari mendiang seniman dan maestro lukis kenamaan RH Popo Iskandar. Darah seni sang ayah rupanya mengalir kental di nadi Tetet Cahyati. Tidak hanya berkutat di seni lukis, justru pencetus batik abstrak kontemporer ini merupakan seniman multimedia yang secara bertahap mencipta batik dari larik puisi yang kemudian diterjemahkan ke dalam lukisan, lalu dicetak menjadi motif batik di atas sutra. Jenis batik baru yang kemudian dikenal sebagai batik Bandung khas kota kembang.
Aom Kusman, presenter yang dulu terkenal dengan kuis ”Siapa Dia”, juga mengapresiasi batik Bandung besutan Tetet Popo Iskandar. ”Ini adalah langkah yang bagus dengan inovasi dari Ibu Tetet, batik akan menjadi lebih disukai anak muda. Mereka yang tidak menyukai batik klasik bisa memilih batik abstrak kontemporer ini,” komentarnya, yang mengharapkan batik Bandung bisa berkembang layaknya batik Garut dan Cirebon.
Tidak jauh berbeda, istri Wali Kota Bandung, Nani Dada Rosada, pun punya pendapat serupa. ”Saya berharap dengan lebih banyak acara seperti ini, batik Bandung bisa lebih banyak dikenal masyarakat, terutama dengan adanya sentra batik Bandung di Cigadung walaupun kini masih dalam proses pembangunan,” sebutnya. ”Dengan begitu, saya harap Bandung tidak hanya akan terkenal sebagai kota wisata belanja atau wisata kuliner, tapi juga kota batik,” sambungnya.
Batik kreasi Tetet memang berbeda dengan batik yang biasa ditemui. Tidak ada motif bunga, burung, atau ragam hias klasik seperti parang dan kawung yang sarat makna, melainkan berupa gambar abstrak dengan sapuan garis geometris berwarna cerah. Batik abstrak kontemporer karya Tetet tampil ekspresif, bebas, bahkan polos, yang menjadi bentuk murni ungkapan jiwanya. more »
Meski secara geografis Indonesia beriklim tropis, tak ada salahnya jika Anda mencoba mengenakan syal dalam berbusana. Selain menjaga badan tetap hangat, syal juga menjadikan Anda tampil trendi, gaya, dan beda.
Aksesori yang satu ini bukan barang baru dalam industri fesyen. Pasalnya, memasuki tahun 2007, item fesyen yang satu ini mengalami peningkatan penjualan. Bagaimana tidak, butik-butik di pusat perbelanjaan kerap menjajakan aksesori penutup leher ini. Bahkan, kini syal atau yang dikenal dengan scarf semakin digandrungi.
Sebagai penunjang, syal memang bisa mendongkrak penampilan. Unik dan stylish, adalah dua kesan yang ditampilkan ketika seseorang tengah mengenakan syal. Syal sendiri memiliki beragam tipe. Entah dilihat dari ukuran, bentuk, dan material yang dipergunakan. Beberapa syal bahkan didesain khusus untuk industri fesyen sebagai pelengkap berbusana.
Namun, secara garis besar, syal biasanya berbentuk empat persegi panjang. Ukurannya, dari yang 50 cm sampai terpanjang hingga 100 cm lebih bisa dipilih sesuai selera. Mulai syal rajutan lebar yang tengah naik daun, woven, embroidery, crochet, dan printed pilihan yang bisa dicoba. Adapun pilihan material dari wol, cashmere, chenille, angora, dan velvet merupakan pilihan yang tepat bagi para fashionista untuk bergaya. more »
RESESI yang mulai memudar membuat para pelaku mode mulai menyusun strategi baru untuk mengejar kerugian yang terjadi selama dua tahun. Kerugian terjadi pada para peritel besar yang biasanya mendominasi di gelaran Pekan Mode New York, London, Milan, dan Paris.
Saat resesi, mereka lebih banyak diam dan mengamati kondisi dan memikirkan strategi untuk musim berikutnya dan saat ini merupakan momen yang tepat untuk memulai. Seperti yang dilakukan China, saat peritel besar dan sejumlah label internasional mundur akibat resesi, label justru mengambil alih pasar. Mereka dengan sigap mengambil kesempatan dan mengisi celah yang kosong.
Gerakan tersebut terlihat di China Fashion Week selama dua musim terakhir. Kendati penyelenggara pekan mode mengumumkan bahwa musim ini jumlah label internasional yang tampil berkurang, geliat fashion week tetap terasa. Terima kasih kepada label lokal yang tetap berusaha mengobarkan semangat mode. more »
KAUM selebriti selalu menjadi media paling jitu mengenalkan tren terkini. Tapi tidak semua selebriti bisa mengenalkan dengan benar tren anyar itu setiap saat. Seperti Paris Hilton yang mengenalkan tren motif binatang, namun sayang tidak baik untuk diikuti.
Untuk mengetahui bagaimana penampilan seleb terbaru bisa terlihat begitu salah, dan bagaimana Anda bisa melakukannya dengan benar, tanpa melanggar aturan. Demikian seperti dinukil dari Dailymail, Kamis (18/3/2010).
Animal prints (motif binatang) memang dapat menambahkan warna dan kegembiraan saat Anda memakainya. Bahkan, motif binatang pun dapat membuat Anda tampil gaya bila dilakukan dengan cara yang benar. Namun tidak begitu dengan Paris Hilton. Saat dia memakai motif macan tutul dari ujung kepala sampai kaki membuatnya tampak murah dan menggelikan. more »
KOREA semakin mantap mengembangkan industri mode. Terlihat dari keseriusan pelaku mode dan pemerintah dalam menggalang kerja sama perdagangan tekstil serta ritel dengan buyer asing.
Salah satu pembeli yang dibidik Korea adalah Amerika Serikat. Karena itu, para desainer yang tergabung dalam Korean Federation of Design Association (KFDA) mengirimkan sembilan delegasinya untuk mempertunjukkan koleksi terbaru di hadapan pembeli di New York.
Ajang tersebut merupakan debut fashion Korea di pasar ritel Amerika. Para desainer yang tergabung dalam KFDA tersebut bekerja sama dengan Korea International Trade Association dan Korea Women Entrepreneurs Associations.
“Lewat acara ini, kami berusaha menunjukkan pada pembeli Amerika bahwa Korea memiliki produk fashion berkualitas yang bisa disejajarkan dengan desainer internasional dan tentunya sesuai dengan pasar Amerika,” ujar Soo Hyun-choi, desainer label Cubellia yang mempresentasikan koleksi mantel kashmir serta kemeja feminin berdetail ruffles.
“Rancangan saya bergaya feminin, elegan, praktis, dan sangat wearable. Gaya yang saya perhatikan digemari wanita Amerika,” sambung Soo.
Sementara untuk lini yang lebih couture, Korea mempersembahkan koleksi Jeone Mi-young yang membawa label Lilycomes Paris, atau Lee Young-hee serta An Yoon-jung yang menghadirkan rangkaian cocktail dress dengan hiasan sequin, bulu-bulu eksotis, serta kristal.
GOTHIC menjadi tema utama koleksi Sofie untuk tren 2010. Rancangannya hadir gelap, mistis, dingin, namun di sisi lain juga penuh warna, embellishment, juga craftmanship yang menjadi signature-nya.
Seusai pertunjukan Malik Moestaram yang penuh warna serta energi di Jakarta Fashion Week (JFW) beberapa waktu lalu, panggung mode mendadak dingin. Musik latar berganti dengan nada yang lebih muram, menekan. Panggung gelap dan layar besar di mulut catwalk menyajikan gambar bulan purnama pucat yang menerangi malam. Ada dua kata terpampang dalam warna merah menyala, Sofie, Gothchic.
Sesuai dengan judul koleksi yang disajikannya, Sofie memang menghadirkan koleksi bergaya gothic. Gelap, muram, dingin. Warna-warna solid yang menjadi ciri khas busana gothic pun terlihat mendominasi koleksinya. Namun tidak hanya hitam, Sofie dengan lihai menambahkan kombinasi warna dalam nuansa gelap yang disajikannya.
Ya, gothic tidak harus selalu hitam dan hitam tidak berarti gothic. Di tangan Sofie, gothic tampil sedikit lembut. Gaya busana yang diadaptasi dari busana berkabung wanita di era Victorian itu memang kerap didominasi warna hitam, yang tidak hanya melekat pada busana, tapi juga tata rias. Di catwalk Sofie, dark mood terlihat kental dari tata rias, sementara busananya merupakan campuran citra muram ala gothic dengan sentuhan rebel ala punk rock. Menciptakan tampilan baru, yang disebut Sofie sebagai Gothchic.
“Inspirasinya datang dari bangunan-bangunan tua yang bernuansa gothic. Mistis, dingin, kukuh, dan tak lekang oleh masa,” tutur desainer bernama lengkap Ahmad Sofiyulloh ini.
Menurut Sofie, gedung-gedung tua tersebut menyimpan banyak cerita dan menjadi saksi bisu sejarah, saksi perubahan zaman. Itulah yang ingin disampaikan Sofie melalui koleksinya, bahwa gothic bisa mewakili masa lalu, masa kini, dan masa depan. Refleksi ide Sofie pun terlihat dari permainan warna-warna gelap yang dikombinasikan bersama napas etnik dari motif batik serta aplikasi manik juga metal.
Sofie pun tidak menampilkan koleksi bergaya feminin, melainkan bergaris androgyny. Hasilnya, rangkaian koleksi chic dengan added value dari batik, tie dye, juga lurik yang dikombinasikan dalam gaya neo punk.
Sisi kontemporer koleksi Sofie terlihat dari cutting yang dinamis. Potongan pendek menegaskan gaya praktis kaum urban, sementara kehadiran draperi menunjukkan kelembutan rancangan Sofie.
Highlight lainnya adalah ragam jaket pendek yang menjadi pelengkap busana. Bolero dan blazer pendek yang menyertai terusan ataupun padu padan celana dan blus justru menjadi “senjata” penarik perhatian, selain kombinasi acak dari batik dan lurik.
Sofie juga menunjukkan agresivitasnya dalam hal mix & match. Jodhpur bermotif bunga tampak menarik saat dipadu dengan cropped blazer, blus transparan, serta syal berornamen. Warna merah menjadi center of attention di antara palet-palet gelap dan secara keseluruhan mempertegas campuran gaya gothic dan neo punk yang hendak disampaikan Sofie.
Di kesempatan lain, Sofie mengombinasikan terusan berwarna pucat dengan cutting asimetris bermotif lurik dan batik bersama stoking hitam, fedora studs, heavy choker, serta ankle boots beraksen logam, menciptakan tampilan gothic nan lembut.
Ahli sejarah fashion Valerie Steele yang pernah menerbitkan buku berjudul “Gothic: Dark Glamor”, mengatakan bahwa gothic adalah gaya busana yang tidak lekang dimakan waktu.
“Gothic lebih dari sekadar hitam. Gothic adalah mood yang menunjukkan sisi gelap manusia dan gothic akan selalu hadir di setiap musim,” ujar Steele.
Kenapa? Alasannya, menurut Steele sangat sederhana, karena gothic didominasi hitam, warna yang diagungkan dalam mode.
“Hitam adalah warna yang harus selalu ada, dan karena itu gothic pun akan selalu ada,” terang Steele. “Kendati pun gothic terlihat sebagai anti-fashion, sebenarnya gothic adalah bagian dari fashion itu sendiri,” sambungnya.
Dan karena itulah, gothic terus berkembang dalam fashion dan menjelma menjadi berbagai gaya turunan. Pada ’70-an, gothic bersatu dengan punk dan melahirkan Sex Pistols beserta Siouxsie Sioux sebagai ikon kaum muda, sekaligus mengantar Vivienne Westwood membawa punk ke dalam lingkaran high fashion, saat sekali lagi gothic bertemu gaya Victorian klasik, lalu menjelma kembali sebagai gaya rebel kaum muda di seluruh dunia.
SEBANYAK 50 pakaian ready-to-wear dan gaun haute couture dari 40 desainer mancanegara dipamerkan dalam perayaan Tahun Biodiversity di Palais des Nation Geneva Switzerland. Selphie Bong, seorang desainer muda Indonesia turut dalam acara yang dihelat Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB/United Nations) ini.
Indonesia patut berbangga karena salah seorang anak bangsa, yakni Selphie Bong turut menyemarakkan perhelatan amal tersebut. Selphie bahkan merupakan desainer termuda di antara sederet desainer internasional lainnya. Didaulat menjadi bagian dari acara, Selphie membuat gaun linen hitam panjang yang beratnya hampir 8 kilogram.
Nama Selphi di kancah fesyen internasional mulai diperhitungkan. Memulai kiprahnya sejak dua tahun lalu, perancang berusia 22 tahun ini mengibarkan nama Indonesia lewat label BONG’S.
Selphie sudah sangat mengerti, bahkan telah mempraktikkan eco sustainable pada semua label pakaiannya. “Saya sangat tergila-gila dengan eco fashion, natural fiber, seperti linen, sutra, katun, dan banyak lagi. Saya sangat senang ketika klien saya memegang gaun saya dan mengatakan “Ini sutra”,” tuturnya.
Selphie menuturkan, publik sekarang semakin peduli dengan kelestarian alam sehingga memahami keberadaan eco fashion. “Kita seharusnya bersyukur, sutra dan linen sudah bisa dijangkau market manapun, dan semua orang sudah mampu menggunakan sutra,” katanya.
Dalam perhetalan tersebut, Selphie disejajarkan dengan desainer terkenal lainnya, seperti Thakoon Panichgul asal Thailand, Peter Ingwesen asal Belanda, Sarah Ratty asal London, dan Diane Von Furstenberg asal New York yang memiliki beberapa butik di mal Indonesia.
“Kami memilih desainer terbaik dunia, terbaik dalam desain dan terbaik dalam melestarikan budaya dan alam,” ucap Christina Dean, penyelenggara acara.
Peter Ingwesen, misalnya, menggunakan bahan katun yang berasal dari Uganda. Ingwersen’s menggunakan 100 persen katun organik untuk rancangan gaun malam warna hitam.
Pemilik label “Noir” ini menyatakan alasannya menggunakan bahan tersebut karena konsumen kini semakin perduli dengan pelestarian alam sehingga perdagangan bahan-bahan natural akan semakin pesat.
Sementara desainer Sarah Ratty, pemilik label “Ciel” ini menggunakan kain rami yang terbuat dari bahan natural. Kain ini sendiri masih awam digunakan, dan masih belum dipasarkan secara luas.
Beberapa isu lingkungan yang menjadi fokus kepedulian, adalah pemanasan global, hilangnya keanekaragaman hayati, buruh di bawah umur dalam industri tekstil terutama Asia, beberapa proses konvensional seperti wol kasar, penyamakan dan pemutihan kulit, pencelupan dan pencetakan tekstil menggunakan air dalam jumlah besar, penggunaan energi atau bahan kimia beracun, dan limbah.
“Industri mode telah menanggapi permintaan gaya berkelanjutan dan serat alami nampak bagus,” ujar Lucas Assuncao dari United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD)