Kini masyarakat sudah melupakan betapa dulu, busana muslim dianggap sebagai busana yang tidak eksklusif dan segmented. Malah, sekarang ini banyak ditemukan berbagai modifikasi dalam busana muslim sehingga gaya yang ditampilkan semakin trendi dan modis, sejajar dengan busana kontemporer yang cenderung mengusung gaya Barat.
Sentuhan modern pun semakin banyak terlihat dalam perkembangan busana muslim. Kini bentukannya tidak lagi sebatas gamis, abaya, maupun tunik. Tren terkini menjadi angin segar bagi para desainer, yang kemudian dikombinasikan dengan gaya lama, membawa bahasa baru yang lebih ramah sekaligus muda.
Sebaliknya, gaya busana islami yang sopan membawa inspirasi tersendiri bagi desainer busana kontemporer. Mereka mensinergikan kedua gaya tersebut, yang ternyata diterima dengan baik oleh para fashionista. Misalnya saja tren kaffiyeh, beberapa waktu lalu, yang ternyata disarikan dari gaya berbusana petinggi Yordania.
Tren ini pun mendunia lewat pergelaran mode internasional, bahkan menjadi key item di beberapa label eksklusif. Salah satunya di pertunjukan Balenciaga fall/winter 2007 lalu. Key item lain yang juga dijadikan rujukan para fashionista adalah turban, tutup kepala yang dibentuk dari lilitan kain.
Pada masa lalu, jenis tutup kepala ini merupakan aksesori yang kerap dipakai anggota keluarga kerajaan ataupun bangsawan. Misalnya saja di kerajaan Turki Ottoman, yang juga memopulerkan kaftan. Hanya, pada waktu itu, turban dikenakan oleh pria.
Hal ini dipercaya berkaitan dengan pahala, seperti halnya penggunaan jilbab oleh wanita. Lain dulu, lain sekarang. Saat ini tren turban justru banyak digunakan kaum hawa sebagai alternatif penggunaan jilbab. Kendati lebih rumit dalam penggunaannya, banyak muslimah yang lebih memilih turban karena selain lebih praktis, bentuknya yang melilit erat di kepala juga membawa keunikan tersendiri.
Eksotis dan unik. Di Indonesia, turban sebenarnya telah sejak lama dikenal, tapi meruak menjadi tren saat presenter terkenal Dewi Hughes terlihat sering menggunakannya di televisi. Pada waktu itu, Hughes baru saja berjilbab dan dia mengakui lilitan turban di kepalanya merupakan gaya yang paling cocok dibandingkan bentukan jilbab lainnya.
Hughes mengatakan, gaya tersebut disarikannya dari aksesori kepala yang sering digunakan penyanyi R&B Amerika Serikat Erykah Badu. Bagaimana dengan para desainer? Anne Rufaidah mengatakan sesekali menggunakan bentukan turban, tapi hanya sebagai alternatif semata.
“Saya kadang-kadang memang menggunakan turban, tapi lebih sering jilbab biasa yang dimodifikasi dengan aksesori lain. Terkadang, turban pun saya jadikan aksesori yang digunakan di luar jilbab,” sebutnya. Lain lagi dengan pemilik rumah mode muslim Shafira, Fenny Mustafa.
Menurut dia, turban adalah alternatif busana muslim bergaya muda. Dia mengatakan, turban cocok dipadukan dengan berbagai gaya, baik itu gaya klasik maupun gaya modern. “Digunakan bersama gamis atau denim juga bisa, malah memperlihatkan gaya yang lebih muda,” sebutnya.
Sementara, ketua Ikatan Perancang Busana Muslim (IPBM) Jawa Barat Iva Latifah mengungkapkan, turban bisa menghadirkan sisi eksotis pada busana muslim. Alasan ini yang membuat Iva menggunakan dominasi turban untuk koleksinya di pergelaran Jakarta Fashion & Food Festival, beberapa waktu lalu.
Menemani rancangannya yang berpalet dasar hitam dengan motif penuh warna, turban ala Iva memang terlihat unik dan secara keseluruhan menjadikan rancangannya tampil eksotik. Unik menjadi kata kunci jilbab ala Nuniek Mawardi.
Memang tidak selalu bisa disebut turban, pasalnya Nuniek banyak mengambil inspirasi dari budaya daerah untuk jilbabnya. Karena itu terkadang turbannya bisa berbentuk hiasan kepala wanita Minang maupun topi pet para pelukis. Namun umumnya, Nuniek memberikan bentukan turban standar, alias kain panjang yang dililit di kepala, yang warnanya disesuaikan dengan palet busananya. (sindo//nsa)





