Meredupnya Sinar Haute Couture

DALAM dunia fashion, haute couture adalah identitas dan simbol prestise. Namun di era ready-to-wear, sinar haute couture semakin meredup dan rumah mode memilih pertunjukkan privat ketimbang show grande dan pergelaran avant-garde yang dulu menjadi ciri khas haute couture.

Kebangkrutan Christian Lacroix serta mundurnya Givenchy dari pergelaran Paris Haute Couture menjadi bukti nyata meredupnya lampu haute couture. Dalam pernyataannya pada media, Givenchy telah memutuskan untuk tidak lagi mempertunjukkan koleksi adibusananya di catwalk Paris Haute Couture. Sebaliknya, Givenchy hanya akan mempertunjukkan koleksi tersebut secara privat kepada para klien serta editor mode. Ricardo Tisci, Direktur Kreatif Givenchy mengatakan untuk dirinya akan mendesain 10 koleksi adibusana yang akan dipertunjukkan secara tertutup di sebuah town house dari abad ke-18 yang berada dalam kompleks Place Vendome di Paris.

“Kami ingin menghadirkan couture dalam suasana yang lebih istimewa dan personal bagi para klien, bukan hanya sekedar pertunjukkan catwalk,” papar Tisci. ”Dalam pertunjukkan tertutup, konsumen bisa mendapatkan couture moment dengan lebih kental,” sambungnya.

Lebih lanjut, Tisci menyatakan bahwa di era sekarang ini, personalisasi antara brand dengan loyal costumer-nya sangat diperlukan. ”Era baru yang dimulai setelah resesi global membagi industri mode menjadi dua, catwalk show untuk koleksi ready-to-wear yang semakin komersial, sementara haute couture kembali ke akar eksklusifnya,” pungkas suksesor John Galliano tersebut.

Rumah mode Givenchy didirikan tahun 1952 oleh desainer Hubert de Givenchy dan merupakan salah satu dari 15 anggota Chambre Syndicale de la Haute Couture, sebuah organisasi mode di Paris yang menyeleksi desainer untuk menampilkan koleksi adibusana di Paris Haute Couture yang telah berdiri sejak 1945.

Jika kembali pada arti katanya, haute couture merupakan cara French Fashion untuk mengungkapkan adibusana, kreasi koleksi eksklusif yang ditujukan bagi konsumen spesifik. Karenanya haute couture selalu mengagungkan detail, kualitas serta segala yang terbaik, untuk material maupun pengerjaan. Di haute couture, biaya bukan prioritas utama alias dikerjakan dengan bujet longgar sehingga identik dengan harga yang melambung. Namun, selera konsumen yang terus berevolusi dan perubahan iklim ekonomi membuat haute couture terdesak. Popularitas haute couture tergantikan pret-a-porter yang lebih dinamis, wearable, dan terjangkau. Kendati demikian, haute couture masih menjadi sebuah niche dalam dunia fashion yang tidak tergantikan. Dan untuk itu, para desainer menyadari bahwa merekalah yang harus berubah dan menyesuaikan diri dengan pasar yang berlaku. Salah satu bentuk adaptasi pasar yang dilakukan para couturier di panggung Paris Haute Couture adalah dengan menghadirkan koleksi yang lebih wearable dan adaptable ketimbang gaya avant-garde.

Bagi konsumen sekarang, harga koleksi haute couture yang bisa mencapai lebih dari USD100 ribu untuk sebuah gaun, terasa mencekik leher. Karenanya mereka berpaling kepada koleksi ritel yang bekerja sama dengan desainer untuk mendapatkan produk dengan nilai lebih. Sementara para desainer menganggap harga tersebut adalah wajar, mengingat adibusana bukanlah sekadar busana, melaikan seni, the art of fashion.

“Haute couture bukanlah ready-to-wear, kami tidak memperlakukan kedua koleksi tersebut sama. Namun untuk menyiasati iklim ekonomi saat ini, desainer harus bisa menurunkan sisi avant-garde dan menyesuaikan dengan keinginan pasar tanpa meninggalkan prinsip desain,” papar Elie Saab, couturier asal Libanon.

Konsumen yang berubah dan pasar yang bergeser memang sedikit mengubah wajah industri haute couture. “Bisa dibilang kini haute couture menjadi lebih praktis mengingat hal itulah yang sebenarnya dicari oleh konsumen,” jelas Editor-in-chief Vogue Rusia Aliona Doletskaya.

Selain itu, Doletskaya juga mengatakan bahwa praktikalitas dalam adibusana terbukti membantu para couturier untuk sukses. Contoh muram bisa ditarik dari Christian Lacroix yang harus menutup rumah modenya tahun lalu akibat pailit. Dari segi rancangan, koleksi haute couture Lacroix adalah seni tingkat tinggi, termasuk karena dikerjakan secara handmade, namun hal tersebut tidak membantunya secara finansial. Apa yang terjadi para Lacroix, kontras dengan sukses yang direngkuh Elie Saab karena koleksi couture-nya yang praktis, wearable, namun tetap indah.

Incoming search terms for the article:


You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>