UKE Toegimin mewarnai pameran “Produk Kerajinan Kreasi Indonesia” dengan sentuhan tradisional selera internasional pada kain tenun ikat Dayak. Kawula muda dijamin tak akan terlihat old fashion saat mengenakannya.
Perancang asal Kalimantan Barat ini menampilkan garis rancangan simpel nan kasual yang banyak bermain dengan motif akar dan kayu, lambang kesuburan suku Dayak. Rancangannya secara khusus mensasar pasar kawula muda.
“Kain tenun ikat Dayak memiliki cerita menarik dari para pengrajinnya. Mereka biasa mencurahkan perasaan ke dalam sebuah syair atau pantun kemudian didendangkan sambil menenun kain dengan alat gedo. Saya baru tahu sekarang, ternyata sungguh unik,” tutur Uke saat ditemui di pameran “Produk Kerajinan Kreasi Indonesia” di Hall B Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (18/3/2009).
Uke berharap, kekayaan budaya etnik suku Dayak bisa terangkat ke permukaan. Di sisi lain juga memberi dorongan kepada para pengrajin daerah agar menganggap kegiatan menenun sebagai mata pencaharian, bukan sekadar selingan di waktu senggang. Jadi, kegiatan ini bisa dilakukan secara lebih maksimal.
“Makin hari saya miris melihat anak muda yang mulai meninggalkan budaya nenek moyang. Padahal, kain tenun ikat Dayak juga bisa tampil fashionable. Saya sendiri memadukannya dengan bahan tafeta dan sutra sehingga tetap modis untuk anak muda,” pungkasnya.
Incoming search terms for the article: