Ketika Penutupan pameran Alas Kaki, Kulit & Produk Kulit Indonesia 2009 di Jakarta Convention Center kemarin , Para menteri dan pejabat pemerintahan yang hadir tidak hanya menyampaikan pidato, tapi juga didaulat menjadi model langsung untuk peragaan sepatu atau fashion shoes. m
Tiga menteri dan sejumlah pejabat eselon I yang hadir pun harus rela berlenggak-lenggok di panggung. Masing-masing adalah Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu beserta suami, Menteri Perindustrian Fahmi Idris beserta istri, serta beberapa sekretaris jenderal beberapa departemen. Mereka berjalan layaknya peragawan dan peragawati di atas catwalk.
Pemilihan model “papan atas” itu bukan tanpa alasan. Sebab, yang mereka pamerkan adalah sepatu-sepatu produksi dalam negeri. Fahmi Idris mengenakan sepatu sport produksi Tomnkins. Aburizal Bakrie memakai sepatu vantofel hitam dari Mario Fiadi. Marie Elka Pangestu menggunakan sepatu buatan Yongki Komaladi, sedangkan sang suami mengenakan sepatu vantofel karya dari Buccheri. Semuanya merupakan merek lokal hasil karya anak bangsa.
Dasar menteri, meskipun didapuk menjadi peragawan, kritik dan masukannya tetap terlontar. “Sepatu ini mengilap, seperti sepatu buat dansa ball room. Sayang saya gak bisa dansa ball room. Saya kira ini produk-produk buatan Amerika. Enggak tahunya buatan lokal,” ujar Aburizal Bakrie saat memeragakan sepatu tersebut di panggung.
Ical, sapaan Aburizal, mengatakan, sepatu buatan lokal sebenarnya sudah tak kalah dengan sepatu impor dari sisi kualitas. Namun, dia mengakui kesulitan mencari sepatu lokal karena sering tidak standar seperti nomor sama dari produsen berbeda punya standar ukuran yang berbeda. “Padahal, untuk bersaing di pasar ekspor, standardisasi penting,” tambahnya.
Menperdag Marie Elka Pangestu meminta model sepatu lokal ditambah. “Sepatu Indonesia sudah bagus, kualitasnya juga semakin baik. Jika ingin terus bersaing, modelnya juga harus terus diinovasi lagi,” ujar Marie usai berakting di atas panggung.
Menperin Fahmi Idris saat menutup acara mengatakan, bulan ini beberapa menteri terkait akan membuat SKB (surat keputusan bersama) mengenai kewajiban menggunakan produk dalam negeri. “Bentuknya kebijakan bersama semacam SKB. Mudah-mudahan Februari ini sudah diterbitkan,” ujar Fahmi.
Menurut dia, SKB itu merupakan petunjuk teknis dari terbitnya instruksi presiden (inpres) mengenai peningkatan penggunaan industri dalam negeri itu. Inpres itu juga mengatur kewajiban menggunakan produk lokal dalam negeri dalam tender pengadaan barang dan jasa.
Fahmi menilai kebijakan baru itu harus dilakukan secara bersama. Misalnya, mengenai penggunaan sepatu dari produk dalam negeri bagi PNS (pegawai negeri sipil), dia akan berkoordinasi dengan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Taufik Effendi. “Sanksi akan dibahas dengan Pak Taufik. Pak Taufik lebih mengerti bagaimana men-treat PNS. Tapi, sebenarnya, PNS tanpa itu pun pasti membeli yang murah,” lanjutnya. Selain dengan Menpan, saya akan berbicara dengan Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Dalam Negeri.
Sementara itu, Ketua Apindo Sofyan Wanandi mengimbau BUMN dan instansi pemerintah untuk memelopori penggunaan produk lokal. Dengan begitu, masyarakat yang lain tidak akan segan-segan mengikuti aturan tersebut. “Saya pikir yang penting di lingkungan instansi pemerintah dan BUMN dululah yang pakai,” ujarnya
Incoming search terms for the article:
- pegawai negeri harus menggunakan produk sepatu lokal
- cache:jCdQTTq34i4J:pakaian biz/fashion/batik-modern batik modern
- hasil karya yongki komaladi
- mentri harus memekai sepatu produk lokal
- PNS yang memberdayakan sepatu produk lokal
- promosi penggunaan produk dalam negeri
- www pengadaan pakaian bumn
Thank you!